Selasa, 09 April 2019

Perpustakaan: dari Pusat Informasi menjadi Pemberdayaan Masyarakat


KOMPAS.com - Perpustakaan Nasional berencana menggelar Rapat Koordinasi Nasional ( Rakornas) Bidang Perpustakaan dengan mengusung tema "Pustakawan Berkarya Mewujudkan Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat tanggal 13-16 Maret 2019, di Jakarta. Rakornas Bidang Perpustakaan akan dihadiri sekitar 2.000 peserta dari Dinas Perpustakaan Provinsi/Kabupaten/Kota, Bappeda, Asosiasi Penerbit/Pengusaha Rekaman, Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi, Khusus, dan Sekolah, serta para pustakawan. Hal ini disampaikan dalam konferensi pers di Perpustakaan Nasional, Jakarta (11/3/2019) yang menghadirkan beberapa narasumber di antaranya: Ofi Sofiana (Deputi Bidang Bahan Pustaka dan Jasa Informasi), Joko Santoso (Kepala Biro Hukum dan Perencanaan), Sri Sumekar (Sekretaris Utama Perpustakaan Nasional), Bachtiar (Kepala Pusat Penerangan Kemendagri) dan Woro Titi Haryati (Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Nasional). Potensi perpustakaan Joko Santoso menyampaikan perpustakaan Indonesia memiliki potensi besar. Jumlah perpustakaan Indonesia menempati terbanyak kedua di Indonesia setelah India. Total terdapat lebih dari 160.461 perpustakaan di Indonesia bila dibandingkan India yang memiliki 330 ribu lebih perpustakaan. Baca juga: Kepustakaan Populer Gramedia Raih Nominasi London Book Fair 2019 Menepis anggapan perpustakaan sebagai tempat sepi dan berdebu, Ofi Sofiana menambahkan Perpusnas sangat masif dalam beradaptasi perubahan teknologi informasi baik dengan menghadirkan buku digital dan juga layanan e-Perpusnas. Demikian pula dari sisi infrastruktur Perpusnas banyak melakukan pembenahan sehingga menjadi destinasi literasi yang nyaman untuk dikunjungi. Perpustakaan Nasional sendiri sejak diresmikan Presiden Joko Widodo September 2017 mengalami kenaikan jumlah kunjungan signifikan bila dibandingkan saat menempati gedung lama di Jalan Salemba Raya. "Saat Setiap bulannya mencapai 73 ribu kunjungan. Bahkan jumlah kunjungan secara online meningkat secara drastis mencapai 3 kali lipat dibandingkan secara on site," jelas Joko Santoso. Transformasi Perpusnas Secara layanan Perpusnas juga mengalami perkembangan. Jumlah layanan online kini telah mencapai 64 jumlah layanan on line bila dibandingkan jumlah layanan on site sebanyak 18 jenis layanan. "Perkembangan layanan e-perpusnas sudah sangat masif karena setiap daerah melakukan replikasi untuk daeranya masing-masing. Jumlahnya mencapai 84 aplikasi meliputi layanan e-perpusnas provinsi, kabupaten dan kota," tambah Sri Sumekar Sekretaris Utama Perpustakaan Nasional. Ke depan Perpusnas diharapkan tidak hanya menjadi tempat informasi membaca buku namun menjadi ruang terbuka bagi masyarakat berbagi pengetahuan, pengalaman dan berlatih keterampilan hidup untuk meningkatkan kesejahteraan. Untuk itu, perpustakaan di daerah nantinya akan didorong menjadi pusat kegiatan masyarakat yang akan diisi dengan berbagai macam pelatihan, penguatan kerjasama, peningkatan budaya, pendampingan masyarakat hingga kampanye gemar membaca. Literasi untuk kesejahteraan Kepala Pusat Penerangan Kemendagri Bactiar menjelaskan Pemerintah melalui Kementerian Dalam Negeri mendorong pemerintah daerah untuk memberikan perhatian khusus terhadap perpustakaan daerah melalui alokasi dana, program dan kegiatan guna mendukung pembangunan SDM melalui perpustakaan. "Saat ini kita memiliki anggaran sekitar Rp 1,1 triliun rupiah dengan 700 miliar di antaranya untuk pengembangan perpustakaan nasional di daerah," ujar Bachtiar. "Transformasi perpustakaan ini juga akan dilakukan hingga perpustakaan daerah. Ada dua hal yang menjadi fokus pembenahan yakni terkait infrastruktur dan juga peningkatan kemampuan pustakawan," jelas Woro Titi Haryati (Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Nasional). Ia menyampaikan perpustakaan daerah nantinya akan dilengkapi dengan akses komputer dan jaringan internet. Termasuk dengan meningkatkan kemampuan pustakawan untuk ikut perkembangan yang ada. "Pustakawan harus mampu menghubungkan antara masyarakat dan perpustakaan lewat ragam kegiatan kemasyarakatan sehingga mampu memberikan manfaat bagi masyarakat mulai dari pelatihan, pendampingan hingga pemberdayaan," tegas Woro. Rakornas nantinya akan menghadirkan narasumber penting seperti Mendagri Tjahjo Kumolo, Menkeu Sri Mulyani, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Bambang PS Brojonegoro, Mendikbud Muhadjir Effendy, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo, Kepala Perpustakaan Nasional, Duta Baca Indonesia Najwa Shihab, AIPI, serta narasumber eksternal lain.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Perpustakaan: dari Pusat Informasi menjadi Pemberdayaan Masyarakat", https://edukasi.kompas.com/read/2019/03/14/22513901/perpustakaan-dari-pusat-informasi-menjadi-pemberdayaan-masyarakat.
Penulis : Yohanes Enggar Harususilo
Editor : Yohanes Enggar Harususilo

Satu Minggu


Satu minggu berlalu dari kelas menulis pertama ku, sebelumnya ku perkenalkan diri nama ku damar, seorang pegawai . saya bercita –cita untuk jadi penulis pingin punya karya yg banyak , tapi kadang rasa malas dan suntuk bikin males menulis. Kelas menulis merupakan tempat yangnyaman dimana seseorang bisa menulis karya tulis, baik puisi, cerpen , dll. Dimana tempat kita berbagi tentang macam – macam ide. Kelas menulis adalah salah satu kegiatan yang ada di dalam perpustakaan. Perpustakaan tempat membuka jendela informasi  dan belajar baik dari bebagai koleksi yg tercetak dan non cetak. Tempat yg sagat nyaman dengan berbagai aktivitas aktivitas yang bermanfaat. Tentunya salah satunya dengan adanya kelas menulis .

Buku-buku tentang Aceh di Perpustakaan Mesir

AMBON, KOMPAS.com - Lebih dari 1.000 buku tersusun rapih di dalam enam lemari di sebuah bilik kecil yang disulap menjadi perpustakaan di gedung serba guna Kantor Desa Batu Merah, Kecamatan Sirimau, Ambon. Meski serba sederhana, ruangan berukuran 6x4 meter itu sangat tertata rapi. Ada beberapa meja dan kursi yang disediakan pengelola perpustakaan bagi para pengunjung untuk membaca. Selain buku, di perpusatakaan sederhana ini juga terdapat tiga unit komputer yang terhubung langsung dengan jaringan internet. Perpustakaan Hatukau begitulah namanya. Perpustakaan ini telah beroperasi sejak 2011 silam. Namun karena tidak dikelola dengan baik, perpustakaan tersebut tidak dapat difungsikan warga. Hingga akhirnya pada 2017 seorang wanita muda bernama Arita Muhlisa datang dan mengambil tanggung jawab untuk menghidupkan kembali perpustakaan tersebut. Berkat perjuangan Arita, Perpustakaan Hatukau menyabet banyak prestasi hingga mendunia. Kompas.com berkesempatan mengunjungi perpustakaan ini dan melihat langsung kondisi perpustakaan serta berdiskusi banyak hal dengan pengelola perpustakaan, Arita Musliha pada Selasa (19/3/2019).
Dalam suasana hangat, Arita kemudian membagi pengalamannya tentang bagaimana perjuangannya untuk menghidupkan perpustakaan yang telah mati suri kala itu menjadi sebuah perpustakaan modern dan selalu ramai dikunjungi warga. “Saya terlibat untuk mengelola perpustakaan ini pada awal 2017. Saat itu saya diminta oleh Pemerintah Negeri (Desa) Batu Merah untuk mengelola perpustakaan ini,” kata Arita. Perempuan berusia 29 tahun ini mengatakan pengaktifan kembali Perpustakaan Hatukau bermula dari program Perpus Seru yang digagas oleh Coca Cola Fondation Indonesia bekerjasama dengan Bill Gets Indonesia. Kebetulan saja kata Arita, Desa Batu Merah bersama empat desa lain dipilih untuk menjalankan program Perpus Seru tersebut. Dari situlah Arita kemudian mulai terlibat aktif untuk menghidupkan Perpustakaan Hatukau. Arita mengatakan setelah dihubungi pihak desa, dia langsung mengambil tanggung jawab tersebut sebagai pengelola perpustakaan. Arita berujar sebelum menjadi pengelola perpustakaan, dia sebelumnya telah aktif di komunitas literasi sehingga dasar yang telah di dapat sangat membantunya untuk mengurus perpustakaan. “Awal mula bergerak di dunia literasi sebenarnya sebelum di Perpustakaan Hatukau. Sebelumnya saya dan teman-teman juga sudah pernah bikin satu komunitas namanya rumah baku mangente,” ujarnya. Arita menceritakaan di komunitas literasi tersebut, dia dan teman-temannya melakukan banyak kegiatan yang melibatkan anak-anak usia dini dan anak-anak kurang mampu yang tidak mendapatkan akses pendidikan. Berbagai kegiatan yang dilakukan selama terlibat aktif di komunitas Rumah Baku Mangente, Arita dan rekan-rekannya memberikan pelajaran gratis kepada anak-anak seperti baca buku, belajar bahasa inggris. Kegiatan lain yang juga sering dilakukan seperti nonton bareng, latihan karate hingga kegiatan cerita bertutur kepada anak-anak. “Rumah saya menjadi tempat kumpul saat itu. Saya sendiri bersedia mengelola perpustakaan ini karena punya basic dengan komunitas literasi sejak sekolah hingga mahasiswa,”katanya. Kerepotan Ibu dua anak ini menuturkan, awalnya dia sedikit kerepotan untuk membenahi perpustakaan tersebut, sebab dia memulai semuanya dari awal. Mengatur ruangan,mengangkat buku-buku lalu dari lantai dua kantor Desa Batu Merah dan membersihkan buku-buku dari debu hingga menyusun dan menata perpustakaan menjadi lebih baik harus dilakukannya saat itu. Kini Arita tidak lagi sendiri, karena dia telah mempunyai dua rekan yang selalu membantunya mengelol perpustakaan tersebut yakni Mega Lestari Jafar dan Dian. “Saat ini saya punya dua teman lagi yang jadi relawan di sini,” ujarnya. Menurut alumni Fakultas Ekonomi Universitas Pattimura Ambon ini, perpustakaan yang dikelolanya kini ramai dikunjungi warga setiap harinya. Selain membaca, para pengunjung mulai dari pelajar, mahasiswa hingga ibu-ibu dan masyarakat umum juga memanfaatkan komputer dan jaringan internet yang disediakan gratis di perpustakaan tersebut. “Semuanya gratis dan siapa saja bebas datang ke sini. Biasanya anak-anak datang untuk mencari tugas di internet, begitupun juga warga lainnya, jadi pengunjungnya ramai di sini,”katanya. Bina 500 Pelaku UMKM Selain sebagai tempat membaca buku, Perpustakaan Hatukau juga bergerak pada pengembangan ekonomi perempuan dan masyarakat hingga terlibat dalam berbagai pelatihan untuk mendorong peningkatan kemampuan ekonomi pelaku UMKM di Kota Ambon. Arita mengatakan, sejak Maret 2017, pihaknya telah membuat kegiatan pelatihan digitalisasi ekonomi yang diikuti sebanyak 500 pelaku UMKM di Kota Ambon. Dalam kegiatan itu, Perpustkaaan Hatukau ikut bekerjasama dengan berbagai pihak dan BUMN seperti BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan, BNI juga Nurbaya.id. Kegiatan pelatihan itu sengaja dilakukan untuk mendorong pengembangan usaha pelaku ekonomi kecil menangah di Kota Ambon agar dapat bergerak maju. Pelatihan itu umumnya didominasi oleh kaum perempuan. Lewat kegiatan itulah, Perpustakaan Hatukau membina para pelaku UMKM untuk lebih kreatif dalam memasarkan produknya serta memberikan akses agar produk yang dihasilkan para pelaku UMKM dan kaum perempuan di Ambon dapat dipasarkan secara luas melalui market online. “Sekarang perpustakaan sendiri sudah punya data by name by adress pelaku UMKM. setelah dari situ kami lebih pada pembinaan. Perpusatakaan ini tidak punya uang, beda dengan SKPD mereka punya anggaran untuk lakukan pembinaan. Jadi kami basisnya balik lagi dengan buku. Maka kami mengarahkan pelaku UMKM untuk ke perpusatakaan di sini ada buku-buku tersedia contohnya soal kuliner, makanan sehat dan lain-lain,”ungkapnya. Banyak pelaku UMKM yang kemudian terus berkunjung ke perpustakaan setelah mengikuti kegiatan tersebut. Umumnya mereka mencari buku-buku kuliner hingga belajar menggunakan internet untuk mencari informasi guna memudahkan usaha yang dirintis. “Mereka datang baca lalu kami meflowup lagi jadi kami mengarahkan mereka lagi untuk mencari informasi lewat internet yang disediakan gratis y di perpustkaan. Kami juga bekerjasama dengan nurbaya.id untuk membuka akses pasar secara online bagi pelaku UMKM termasuk belanja.com, produknya juga sampai ada di buka lapak,”bebernya . Dia mengungkapkan ada beberapa pelaku UMKM yang dibina perpustakaan Hatukau saat ini telah menjadi pelaku usaha yang sukses. Sebab produk mereka yang dipasarkan lewat belanja.com telah sampai pada level premium. Baca juga: 15 Sepeda Motor di Perpustakaan UGM Rusak Tertimpa Pohon Tumbang Dia mencontohkan salah satu pelaku UMKM, Arsa Marasabessy misalnya, produknya kini menjadi incaran konsumen di luar daerah Maluku, padahal sebelumnya Arsa hanya seorang pedagang kaki lima yang yang berjualan di sebuah lapak kecil di Pasar Batu Merah. Kini omset yang didapat Arsa meningkat tajam setiap bulannya setelah produknya mampu menembus pasar market online. Atas kesuksesan tersbeut, kata Arita, Arsa kini sering diundang ke beberapa kegiatan termasuk sampai ke Bekasi, Jawa Barat untuk membagi pengalamannya terkait bisnis kuliner yang dirintisnya tersebut. Arita mengatakan selain memberikan pembinaan dan dorongan bagi pelaku UMKM untuk mengembangkan usahan, pihaknya juga ikut memberikan pelatihan manajemen keuangan sederhana untuk mereka termasuk mengajari computer hingga internet gratis. “Kami juga bekerjasama dengan yayasan LAPAN untuk membagikan bantuan alat produksi untuk pelaku UMKM binaan kami terutama untuk perempuan, karena kami punya datanya,”sebutnya. Lewat perpustakaan, Arita dan rekan-rekannya juga mensuport para pelaku UMKM yang yang terdiri dari ibu-ibu untuk mendapatkan bantuan permodalan untuk mengembangkan usaha mereka dengan bunga yang cukup ringan. Segudang prestasi Berkat kerja keras yang diraih selama ini, Perpustakaan Hatukau meraih banyak prestasi baik di tingkat daerah hingga ke tingkat nasional. Prestasi dan penghargaan yang telah diraih oleh Perpustakaan Hatukau diantaranya menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia timur dalam lomba perpustakaan tingkat nasional pada tahun 2018 lalu. Dalam lomba tersebut, Perpustakaan Hatukau meraih juara keenam. Perpustakaan Hatukau juga didaulat menjadi perpustakaan dengan cerita impact terbaik pada regional Peral Learning Meetting di Jogjakarta. Selain itu Perpustakaan Hatukau juga masuk dalam 5 besar perpustakaan terbaik nasional klaster C setelah bersaing dengan 74.000 perpustakaan desa seluruh Indonesia. “Kami juga meraih juara 1 lomba perpustakaan tingkat provinsi Maluku,” ujarnya sambil menunjukan penghargaan yang diraih. Tak hanya itu, pada Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Ambon tahun lalu, Perpustakaan Hatukau juga mendapat dua award sekaligus dari pemerintah Kota Ambon yakni sebagai perpustakaan desa terbaik dan juga sebagai pegiat literasi terbaik. Namun dari semua prestasi yang diraih tersebut, yang paling berkesan bagi Arita adalah bisa tampil di forum internasional menjadi pembicara sambil membagikan gagasan dan cerita sukses yang diraihnya bagi para pustakawan yang datang dari berbagai negara dari 4 benua. Menurut Arita forum internasional yang diikuti oleh para pustakawan dari 19 negara yang umumnya datang dari negara Afrika itu digelar di Jogjakarta pada 18-22 Agustus 2018 lalu. Saat itu Arita mengaku dia menjadi pembicara perempuan satu-satunya yang mewakili para pustakawan dari Indonesia. Tahun ini Perpustakaan Hatukau juga akan diundang ke Singapura untuk mengikuti kegiatan yang diselenggarakan sebuah even organizer di negara tersebut.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Perjuangan Arita Menghidupkan Perpustakaan yang Mati Suri hingga Meraih Segudang Prestasi", https://regional.kompas.com/read/2019/03/20/13480861/perjuangan-arita-menghidupkan-perpustakaan-yang-mati-suri-hingga-meraih.
Penulis : Kontributor Ambon, Rahmat Rahman Patty
Editor : David Oliver Purba

Perjuangan Arita Menghidupkan Perpustakaan yang Mati Suri hingga Meraih Segudang Prestasi Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Perjuangan Arita Menghidupkan Perpustakaan yang Mati Suri hingga Meraih Segudang Prestasi"

Dia mencontohkan salah satu pelaku UMKM, Arsa Marasabessy misalnya, produknya kini menjadi incaran konsumen di luar daerah Maluku, padahal sebelumnya Arsa hanya seorang pedagang kaki lima yang yang berjualan di sebuah lapak kecil di Pasar Batu Merah. Kini omset yang didapat Arsa meningkat tajam setiap bulannya setelah produknya mampu menembus pasar market online. Atas kesuksesan tersbeut, kata Arita, Arsa kini sering diundang ke beberapa kegiatan termasuk sampai ke Bekasi, Jawa Barat untuk membagi pengalamannya terkait bisnis kuliner yang dirintisnya tersebut. Arita mengatakan selain memberikan pembinaan dan dorongan bagi pelaku UMKM untuk mengembangkan usahan, pihaknya juga ikut memberikan pelatihan manajemen keuangan sederhana untuk mereka termasuk mengajari computer hingga internet gratis. “Kami juga bekerjasama dengan yayasan LAPAN untuk membagikan bantuan alat produksi untuk pelaku UMKM binaan kami terutama untuk perempuan, karena kami punya datanya,”sebutnya. Lewat perpustakaan, Arita dan rekan-rekannya juga mensuport para pelaku UMKM yang yang terdiri dari ibu-ibu untuk mendapatkan bantuan permodalan untuk mengembangkan usaha mereka dengan bunga yang cukup ringan. Segudang prestasi Berkat kerja keras yang diraih selama ini, Perpustakaan Hatukau meraih banyak prestasi baik di tingkat daerah hingga ke tingkat nasional. Prestasi dan penghargaan yang telah diraih oleh Perpustakaan Hatukau diantaranya menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia timur dalam lomba perpustakaan tingkat nasional pada tahun 2018 lalu. Dalam lomba tersebut, Perpustakaan Hatukau meraih juara keenam. Perpustakaan Hatukau juga didaulat menjadi perpustakaan dengan cerita impact terbaik pada regional Peral Learning Meetting di Jogjakarta. Selain itu Perpustakaan Hatukau juga masuk dalam 5 besar perpustakaan terbaik nasional klaster C setelah bersaing dengan 74.000 perpustakaan desa seluruh Indonesia. “Kami juga meraih juara 1 lomba perpustakaan tingkat provinsi Maluku,” ujarnya sambil menunjukan penghargaan yang diraih. Tak hanya itu, pada Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Ambon tahun lalu, Perpustakaan Hatukau juga mendapat dua award sekaligus dari pemerintah Kota Ambon yakni sebagai perpustakaan desa terbaik dan juga sebagai pegiat literasi terbaik. Namun dari semua prestasi yang diraih tersebut, yang paling berkesan bagi Arita adalah bisa tampil di forum internasional menjadi pembicara sambil membagikan gagasan dan cerita sukses yang diraihnya bagi para pustakawan yang datang dari berbagai negara dari 4 benua. Menurut Arita forum internasional yang diikuti oleh para pustakawan dari 19 negara yang umumnya datang dari negara Afrika itu digelar di Jogjakarta pada 18-22 Agustus 2018 lalu. Saat itu Arita mengaku dia menjadi pembicara perempuan satu-satunya yang mewakili para pustakawan dari Indonesia. Tahun ini Perpustakaan Hatukau juga akan diundang ke Singapura untuk mengikuti kegiatan yang diselenggarakan sebuah even organizer di negara tersebut.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Perjuangan Arita Menghidupkan Perpustakaan yang Mati Suri hingga Meraih Segudang Prestasi", https://regional.kompas.com/read/2019/03/20/13480861/perjuangan-arita-menghidupkan-perpustakaan-yang-mati-suri-hingga-meraih.
Penulis : Kontributor Ambon, Rahmat Rahman Patty
Editor : David Oliver Purba
AMBON, KOMPAS.com - Lebih dari 1.000 buku tersusun rapih di dalam enam lemari di sebuah bilik kecil yang disulap menjadi perpustakaan di gedung serba guna Kantor Desa Batu Merah, Kecamatan Sirimau, Ambon. Meski serba sederhana, ruangan berukuran 6x4 meter itu sangat tertata rapi. Ada beberapa meja dan kursi yang disediakan pengelola perpustakaan bagi para pengunjung untuk membaca. Selain buku, di perpusatakaan sederhana ini juga terdapat tiga unit komputer yang terhubung langsung dengan jaringan internet. Perpustakaan Hatukau begitulah namanya. Perpustakaan ini telah beroperasi sejak 2011 silam. Namun karena tidak dikelola dengan baik, perpustakaan tersebut tidak dapat difungsikan warga. Hingga akhirnya pada 2017 seorang wanita muda bernama Arita Muhlisa datang dan mengambil tanggung jawab untuk menghidupkan kembali perpustakaan tersebut. Berkat perjuangan Arita, Perpustakaan Hatukau menyabet banyak prestasi hingga mendunia. Kompas.com berkesempatan mengunjungi perpustakaan ini dan melihat langsung kondisi perpustakaan serta berdiskusi banyak hal dengan pengelola perpustakaan, Arita Musliha pada Selasa (19/3/2019). Baca juga: Perpustakaan: dari Pusat Informasi menjadi Pemberdayaan Masyarakat Dalam suasana hangat, Arita kemudian membagi pengalamannya tentang bagaimana perjuangannya untuk menghidupkan perpustakaan yang telah mati suri kala itu menjadi sebuah perpustakaan modern dan selalu ramai dikunjungi warga. “Saya terlibat untuk mengelola perpustakaan ini pada awal 2017. Saat itu saya diminta oleh Pemerintah Negeri (Desa) Batu Merah untuk mengelola perpustakaan ini,” kata Arita. Perempuan berusia 29 tahun ini mengatakan pengaktifan kembali Perpustakaan Hatukau bermula dari program Perpus Seru yang digagas oleh Coca Cola Fondation Indonesia bekerjasama dengan Bill Gets Indonesia. Kebetulan saja kata Arita, Desa Batu Merah bersama empat desa lain dipilih untuk menjalankan program Perpus Seru tersebut. Dari situlah Arita kemudian mulai terlibat aktif untuk menghidupkan Perpustakaan Hatukau. Arita mengatakan setelah dihubungi pihak desa, dia langsung mengambil tanggung jawab tersebut sebagai pengelola perpustakaan. Arita berujar sebelum menjadi pengelola perpustakaan, dia sebelumnya telah aktif di komunitas literasi sehingga dasar yang telah di dapat sangat membantunya untuk mengurus perpustakaan. “Awal mula bergerak di dunia literasi sebenarnya sebelum di Perpustakaan Hatukau. Sebelumnya saya dan teman-teman juga sudah pernah bikin satu komunitas namanya rumah baku mangente,” ujarnya. Arita menceritakaan di komunitas literasi tersebut, dia dan teman-temannya melakukan banyak kegiatan yang melibatkan anak-anak usia dini dan anak-anak kurang mampu yang tidak mendapatkan akses pendidikan. Berbagai kegiatan yang dilakukan selama terlibat aktif di komunitas Rumah Baku Mangente, Arita dan rekan-rekannya memberikan pelajaran gratis kepada anak-anak seperti baca buku, belajar bahasa inggris. Kegiatan lain yang juga sering dilakukan seperti nonton bareng, latihan karate hingga kegiatan cerita bertutur kepada anak-anak. “Rumah saya menjadi tempat kumpul saat itu. Saya sendiri bersedia mengelola perpustakaan ini karena punya basic dengan komunitas literasi sejak sekolah hingga mahasiswa,”katanya. Kerepotan Ibu dua anak ini menuturkan, awalnya dia sedikit kerepotan untuk membenahi perpustakaan tersebut, sebab dia memulai semuanya dari awal. Mengatur ruangan,mengangkat buku-buku lalu dari lantai dua kantor Desa Batu Merah dan membersihkan buku-buku dari debu hingga menyusun dan menata perpustakaan menjadi lebih baik harus dilakukannya saat itu. Kini Arita tidak lagi sendiri, karena dia telah mempunyai dua rekan yang selalu membantunya mengelol perpustakaan tersebut yakni Mega Lestari Jafar dan Dian. “Saat ini saya punya dua teman lagi yang jadi relawan di sini,” ujarnya. Menurut alumni Fakultas Ekonomi Universitas Pattimura Ambon ini, perpustakaan yang dikelolanya kini ramai dikunjungi warga setiap harinya. Selain membaca, para pengunjung mulai dari pelajar, mahasiswa hingga ibu-ibu dan masyarakat umum juga memanfaatkan komputer dan jaringan internet yang disediakan gratis di perpustakaan tersebut. “Semuanya gratis dan siapa saja bebas datang ke sini. Biasanya anak-anak datang untuk mencari tugas di internet, begitupun juga warga lainnya, jadi pengunjungnya ramai di sini,”katanya. Bina 500 Pelaku UMKM Selain sebagai tempat membaca buku, Perpustakaan Hatukau juga bergerak pada pengembangan ekonomi perempuan dan masyarakat hingga terlibat dalam berbagai pelatihan untuk mendorong peningkatan kemampuan ekonomi pelaku UMKM di Kota Ambon. Arita mengatakan, sejak Maret 2017, pihaknya telah membuat kegiatan pelatihan digitalisasi ekonomi yang diikuti sebanyak 500 pelaku UMKM di Kota Ambon. Dalam kegiatan itu, Perpustkaaan Hatukau ikut bekerjasama dengan berbagai pihak dan BUMN seperti BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan, BNI juga Nurbaya.id. Kegiatan pelatihan itu sengaja dilakukan untuk mendorong pengembangan usaha pelaku ekonomi kecil menangah di Kota Ambon agar dapat bergerak maju. Pelatihan itu umumnya didominasi oleh kaum perempuan. Lewat kegiatan itulah, Perpustakaan Hatukau membina para pelaku UMKM untuk lebih kreatif dalam memasarkan produknya serta memberikan akses agar produk yang dihasilkan para pelaku UMKM dan kaum perempuan di Ambon dapat dipasarkan secara luas melalui market online. “Sekarang perpustakaan sendiri sudah punya data by name by adress pelaku UMKM. setelah dari situ kami lebih pada pembinaan. Perpusatakaan ini tidak punya uang, beda dengan SKPD mereka punya anggaran untuk lakukan pembinaan. Jadi kami basisnya balik lagi dengan buku. Maka kami mengarahkan pelaku UMKM untuk ke perpusatakaan di sini ada buku-buku tersedia contohnya soal kuliner, makanan sehat dan lain-lain,”ungkapnya. Banyak pelaku UMKM yang kemudian terus berkunjung ke perpustakaan setelah mengikuti kegiatan tersebut. Umumnya mereka mencari buku-buku kuliner hingga belajar menggunakan internet untuk mencari informasi guna memudahkan usaha yang dirintis. “Mereka datang baca lalu kami meflowup lagi jadi kami mengarahkan mereka lagi untuk mencari informasi lewat internet yang disediakan gratis y di perpustkaan. Kami juga bekerjasama dengan nurbaya.id untuk membuka akses pasar secara online bagi pelaku UMKM termasuk belanja.com, produknya juga sampai ada di buka lapak,”bebernya . Dia mengungkapkan ada beberapa pelaku UMKM yang dibina perpustakaan Hatukau saat ini telah menjadi pelaku usaha yang sukses. Sebab produk mereka yang dipasarkan lewat belanja.com telah sampai pada level premium.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Perjuangan Arita Menghidupkan Perpustakaan yang Mati Suri hingga Meraih Segudang Prestasi", https://regional.kompas.com/read/2019/03/20/13480861/perjuangan-arita-menghidupkan-perpustakaan-yang-mati-suri-hingga-meraih.
Penulis : Kontributor Ambon, Rahmat Rahman Patty
Editor : David Oliver Purba

Selasa, 02 April 2019

Dinas Perpustakaan Kota Malang Masih Berencana Gelar Lomba Tulis Kekhasan Daerah

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Kota  Malang masih berencana membuat kegiatan untuk menambah minat baca masyarakat.
Salah satunya, menggelar lomba penulisan buku untuk umum.
Hal itu disampaikan oleh Sri Umiasih Kabid Resevasi dan Pengolahan Bahan Pustaka dalam acara yang digelar di Hotel Savana Kota Malang pada Rabu (20/3/2019).
"Tujuan lomba penulisan buku ini ialah untuk menambahkan koleksi buku di perpustakaan Kota Malang, sembari menambah minat baca untuk masyarakat khususnya generasi milineal," ucapnya
Acara yang bertajuk 'mengembangkan koleksi perpustakaan berdasarkan kekhasan daerah' itu dihadiri oleh para penulis, komunitas baca, dan masyarakat umum.
Sri berharap, dengan digelarnya acara ini nantinya perpus Kota Malang bisa menambah koleksi, terutama tentang khas daerah.
"Tema besarnya ialah Kota Malang. Karena literatur tentang kekhasan daerah ini sangat kurang," ucapnya.
Meskipun demikian, Sri belum bisa memastikan kapan tanggal digelarnya lomba penulisan buku tersebut.
Dirinya masih menunggu diskusi ini untuk nantinya akan dilaporkan kepada Wali Kota Malang terkait dengan program dan anggaran.
"Jadi nanti kami laporkan hasilnya. Upaya kami yang pertama ini ialah lomba penulisan buku dulu untuk Kota Malang," jelasnya.
Pemenang dari lomba penulisan buku itu nantinya akan dibagikan ke sekolah-sekolah yang ada di Kota Malang.
Untuk itu, Sri akan meminta bekerjasama dengan perguruan tinggi dan lembaga maupun komunitas lain yang terkait.
"Nanti dari Perpustakaan Kota Malang yang akan menerbitkan. Tetapi tidak akan kami komersilkan ataupun menjual. Namun hanya kami sebarkan saja," ucapnya.
Sementara itu, upaya lain yang dilakukan oleh Perpustakaan Kota Malang dalam menambah minat baca ialah dengan cara menyebarkan mobil baca di taman-taman yang ada di Kota Malang.
Dirinya juga bekerjasama dengan komunitas-komunikas literasi agar membantu masyarakat untuk menambah minat baca.
"Program mobil baca ini sudah kami terapkan, hasilnya positif. Namun, kami harus terus melakukan evaluasi agar kegiatan kami ini lebih efektif dan mengena ke masyarakat," ucapnya.
Di sisi lain, Fatkul Hata Panatapraja, pemateri dalam acara tersebut mengatakan, bahwa masa kini merupakan masa di mana telah muncul generasi menunduk.
Menunduk dalam hal ini ialah seseorang yang selalu melihat sebuah Handphone.
"Dulu, minat baca masyarakat terhadap buku ini banyak. Sejak adanya Handphone dan Smartphone ini semakin banyak generasi menunduk di negara kita ini," ucapnya.


Artikel ini telah tayang di suryamalang.com dengan judul Dinas Perpustakaan Kota Malang Masih Berencana Gelar Lomba Tulis Kekhasan Daerah, http://suryamalang.tribunnews.com/2019/03/20/dinas-perpustakaan-kota-malang-masih-berencana-gelar-lomba-tulis-kekhasan-daerah?page=all.
Penulis: Mochammad Rifky Edgar Hidayatullah
Editor: yuli

Uniknya Perpustakaan di Bandung Berdinding Ember Es Krim

BANGKAPOS.COM - Alih-alih menyumbat saluran air, plastik justru membantu membuat perpustakaan kecil di Bandung ini terlihat menakjubkan.
Perpustakaan kecil yang dibuka pada Juli lalu itu telah menarik perhatian dunia tidak hanya melalui persediaan buku-bukunya tetapi juga untuk desain cerdiknya.
Dinding-dinding pada perpustakaan ini dibuat menggunakan ember es krim.
Sang arsitek, Florian Heinzelmann dari firma arsitektur Belanda Shau menciptakan apa yang dia sebut sebagai "micro library" atau perpustakaan mini seluas 159,8 meter persegi.
Dia memanfaatkan 2.000 ember plastik untuk membangun dinding perpustakaannya.
"Perpustakaan ini ada di Taman Birma yang merupakan tempat komunal bagi orang-orang untuk bergaul dan membaca," kata Heinzelmann.
Selain meningkatkan literasi di Indonesia, Heinzelmann juga berharap agar perpustakaan ini mampu menumbuhkan kesadaran lingkungan masyarakat.
Hal itu diharapkannya lantaran beberapa pantai dan saluran air telah banyak tercemar serta tersumbat akibat meningkatnya sampah plastik.
Meskipun tidak jelas bagi pengunjung biasa atau orang yang meihatnya, dinding ember es krim ini sebenarnya membentuk kode biner dari kalimat "buku adalah jendela dunia,".
Bagian bawah ember menandakan angka satu sementara ujung lainnya mewakili nol.
Ditempatkan di antara tulangan baja vertikal, ember yang ditata sedemikian rupa ini berfungsi untuk mengusir air hujan.
Selain itu karena tidak terlalu buram, dinding ember ini membuat pembaca mendapatkan cahaya matahari alami dan juga mampu mengoptimalkan ventilasi alami.
Perpustakaan ini berada di lantai pertama dan dapat diakses oleh tangga di samping lantai dasar yang bisa digunakan untuk berbagai fungsi komunal.


Artikel ini telah tayang di bangkapos.com dengan judul Uniknya Perpustakaan di Bandung Berdinding Ember Es Krim, http://bangka.tribunnews.com/2019/03/23/uniknya-perpustakaan-di-bandung-berdinding-ember-es-krim.

Editor: fitriadi

100 kata


Seratus kata sepat berfikir dan binggung mau nulis apa dan bagaimana ? ikut sudah terlambat terpaksa otak di paksa untuk berfikir memulai untuk menyusun huruf demi huruf memuat kata hingga 100 kata. Kata yg tersusun sangat bebas tanpa tema , membuat harus mengetik jari –jemari kaku lama tak penah menulis lagi kini mulai memencet keyboard yang berdebu. Rasa ragu,takut , dan kuwatir yang karena lama tidak tak menulis sudah mulai berkurang. Tugas dari perpustakan dalam kelas menulis benar –benar melatih otak, perlahan berkurang tulisan yang dimulai dari kata  menjadi kalimat mulai perlahan menjadi 100 kata. Akhirnya tugas selesai.