Dia mencontohkan salah
satu pelaku UMKM, Arsa Marasabessy misalnya, produknya kini menjadi
incaran konsumen di luar daerah Maluku, padahal sebelumnya Arsa hanya
seorang pedagang kaki lima yang yang berjualan di sebuah lapak kecil di
Pasar Batu Merah.
Kini omset yang didapat Arsa meningkat tajam setiap bulannya setelah
produknya mampu menembus pasar market online.
Atas kesuksesan tersbeut, kata Arita, Arsa kini sering diundang ke
beberapa kegiatan termasuk sampai ke Bekasi, Jawa Barat untuk membagi
pengalamannya terkait bisnis kuliner yang dirintisnya tersebut.
Arita mengatakan selain memberikan pembinaan dan dorongan bagi pelaku
UMKM untuk mengembangkan usahan, pihaknya juga ikut memberikan pelatihan
manajemen keuangan sederhana untuk mereka termasuk mengajari computer
hingga internet gratis.
“Kami juga bekerjasama dengan yayasan LAPAN untuk membagikan bantuan
alat produksi untuk pelaku UMKM binaan kami terutama untuk perempuan,
karena kami punya datanya,”sebutnya.
Lewat perpustakaan, Arita dan rekan-rekannya juga mensuport para pelaku
UMKM yang yang terdiri dari ibu-ibu untuk mendapatkan bantuan permodalan
untuk mengembangkan usaha mereka dengan bunga yang cukup ringan.
Segudang prestasi
Berkat kerja keras yang diraih selama ini, Perpustakaan Hatukau meraih
banyak prestasi baik di tingkat daerah hingga ke tingkat nasional.
Prestasi dan penghargaan yang telah diraih oleh Perpustakaan Hatukau
diantaranya menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia timur dalam lomba
perpustakaan tingkat nasional pada tahun 2018 lalu. Dalam lomba
tersebut, Perpustakaan Hatukau meraih juara keenam.
Perpustakaan Hatukau juga didaulat menjadi perpustakaan dengan cerita
impact terbaik pada regional Peral Learning Meetting di Jogjakarta.
Selain itu Perpustakaan Hatukau juga masuk dalam 5 besar perpustakaan
terbaik nasional klaster C setelah bersaing dengan 74.000 perpustakaan
desa seluruh Indonesia.
“Kami juga meraih juara 1 lomba perpustakaan tingkat provinsi Maluku,”
ujarnya sambil menunjukan penghargaan yang diraih.
Tak hanya itu, pada Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Ambon tahun lalu,
Perpustakaan Hatukau juga mendapat dua award sekaligus dari pemerintah
Kota Ambon yakni sebagai perpustakaan desa terbaik dan juga sebagai
pegiat literasi terbaik.
Namun dari semua prestasi yang diraih tersebut, yang paling berkesan
bagi Arita adalah bisa tampil di forum internasional menjadi pembicara
sambil membagikan gagasan dan cerita sukses yang diraihnya bagi para
pustakawan yang datang dari berbagai negara dari 4 benua.
Menurut Arita forum internasional yang diikuti oleh para pustakawan dari
19 negara yang umumnya datang dari negara Afrika itu digelar di
Jogjakarta pada 18-22 Agustus 2018 lalu. Saat itu Arita mengaku dia
menjadi pembicara perempuan satu-satunya yang mewakili para pustakawan
dari Indonesia.
Tahun ini Perpustakaan Hatukau juga akan diundang ke Singapura untuk
mengikuti kegiatan yang diselenggarakan sebuah even organizer di negara
tersebut.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Perjuangan Arita Menghidupkan Perpustakaan yang Mati Suri hingga Meraih Segudang Prestasi", https://regional.kompas.com/read/2019/03/20/13480861/perjuangan-arita-menghidupkan-perpustakaan-yang-mati-suri-hingga-meraih.
Penulis : Kontributor Ambon, Rahmat Rahman Patty
Editor : David Oliver Purba
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Perjuangan Arita Menghidupkan Perpustakaan yang Mati Suri hingga Meraih Segudang Prestasi", https://regional.kompas.com/read/2019/03/20/13480861/perjuangan-arita-menghidupkan-perpustakaan-yang-mati-suri-hingga-meraih.
Penulis : Kontributor Ambon, Rahmat Rahman Patty
Editor : David Oliver Purba
AMBON, KOMPAS.com -
Lebih dari 1.000 buku tersusun rapih di dalam enam lemari di sebuah
bilik kecil yang disulap menjadi perpustakaan di gedung serba guna
Kantor Desa Batu Merah, Kecamatan Sirimau, Ambon.
Meski serba sederhana, ruangan berukuran 6x4 meter itu sangat tertata
rapi. Ada beberapa meja dan kursi yang disediakan pengelola perpustakaan
bagi para pengunjung untuk membaca.
Selain buku, di perpusatakaan sederhana ini juga terdapat tiga unit
komputer yang terhubung langsung dengan jaringan internet.
Perpustakaan Hatukau begitulah namanya. Perpustakaan ini telah
beroperasi sejak 2011 silam. Namun karena tidak dikelola dengan baik,
perpustakaan tersebut tidak dapat difungsikan warga.
Hingga akhirnya pada 2017 seorang wanita muda bernama Arita Muhlisa
datang dan mengambil tanggung jawab untuk menghidupkan kembali
perpustakaan tersebut.
Berkat perjuangan Arita, Perpustakaan Hatukau menyabet banyak prestasi
hingga mendunia.
Kompas.com berkesempatan mengunjungi perpustakaan ini dan melihat
langsung kondisi perpustakaan serta berdiskusi banyak hal dengan
pengelola perpustakaan, Arita Musliha pada Selasa (19/3/2019).
Baca juga: Perpustakaan: dari Pusat Informasi menjadi Pemberdayaan
Masyarakat
Dalam suasana hangat, Arita kemudian membagi pengalamannya tentang
bagaimana perjuangannya untuk menghidupkan perpustakaan yang telah mati
suri kala itu menjadi sebuah perpustakaan modern dan selalu ramai
dikunjungi warga.
“Saya terlibat untuk mengelola perpustakaan ini pada awal 2017. Saat itu
saya diminta oleh Pemerintah Negeri (Desa) Batu Merah untuk mengelola
perpustakaan ini,” kata Arita.
Perempuan berusia 29 tahun ini mengatakan pengaktifan kembali
Perpustakaan Hatukau bermula dari program Perpus Seru yang digagas oleh
Coca Cola Fondation Indonesia bekerjasama dengan Bill Gets Indonesia.
Kebetulan saja kata Arita, Desa Batu Merah bersama empat desa lain
dipilih untuk menjalankan program Perpus Seru tersebut. Dari situlah
Arita kemudian mulai terlibat aktif untuk menghidupkan Perpustakaan
Hatukau.
Arita mengatakan setelah dihubungi pihak desa, dia langsung mengambil
tanggung jawab tersebut sebagai pengelola perpustakaan. Arita berujar
sebelum menjadi pengelola perpustakaan, dia sebelumnya telah aktif di
komunitas literasi sehingga dasar yang telah di dapat sangat membantunya
untuk mengurus perpustakaan.
“Awal mula bergerak di dunia literasi sebenarnya sebelum di Perpustakaan
Hatukau. Sebelumnya saya dan teman-teman juga sudah pernah bikin satu
komunitas namanya rumah baku mangente,” ujarnya.
Arita menceritakaan di komunitas literasi tersebut, dia dan
teman-temannya melakukan banyak kegiatan yang melibatkan anak-anak usia
dini dan anak-anak kurang mampu yang tidak mendapatkan akses pendidikan.
Berbagai kegiatan yang dilakukan selama terlibat aktif di komunitas
Rumah Baku Mangente, Arita dan rekan-rekannya memberikan pelajaran
gratis kepada anak-anak seperti baca buku, belajar bahasa inggris.
Kegiatan lain yang juga sering dilakukan seperti nonton bareng, latihan
karate hingga kegiatan cerita bertutur kepada anak-anak.
“Rumah saya menjadi tempat kumpul saat itu. Saya sendiri bersedia
mengelola perpustakaan ini karena punya basic dengan komunitas literasi
sejak sekolah hingga mahasiswa,”katanya.
Kerepotan
Ibu dua anak ini menuturkan, awalnya dia sedikit kerepotan untuk
membenahi perpustakaan tersebut, sebab dia memulai semuanya dari awal.
Mengatur ruangan,mengangkat buku-buku lalu dari lantai dua kantor Desa
Batu Merah dan membersihkan buku-buku dari debu hingga menyusun dan
menata perpustakaan menjadi lebih baik harus dilakukannya saat itu.
Kini Arita tidak lagi sendiri, karena dia telah mempunyai dua rekan yang
selalu membantunya mengelol perpustakaan tersebut yakni Mega Lestari
Jafar dan Dian.
“Saat ini saya punya dua teman lagi yang jadi relawan di sini,” ujarnya.
Menurut alumni Fakultas Ekonomi Universitas Pattimura Ambon ini,
perpustakaan yang dikelolanya kini ramai dikunjungi warga setiap
harinya. Selain membaca, para pengunjung mulai dari pelajar, mahasiswa
hingga ibu-ibu dan masyarakat umum juga memanfaatkan komputer dan
jaringan internet yang disediakan gratis di perpustakaan tersebut.
“Semuanya gratis dan siapa saja bebas datang ke sini. Biasanya anak-anak
datang untuk mencari tugas di internet, begitupun juga warga lainnya,
jadi pengunjungnya ramai di sini,”katanya.
Bina 500 Pelaku UMKM
Selain sebagai tempat membaca buku, Perpustakaan Hatukau juga bergerak
pada pengembangan ekonomi perempuan dan masyarakat hingga terlibat dalam
berbagai pelatihan untuk mendorong peningkatan kemampuan ekonomi pelaku
UMKM di Kota Ambon.
Arita mengatakan, sejak Maret 2017, pihaknya telah membuat kegiatan
pelatihan digitalisasi ekonomi yang diikuti sebanyak 500 pelaku UMKM di
Kota Ambon. Dalam kegiatan itu, Perpustkaaan Hatukau ikut bekerjasama
dengan berbagai pihak dan BUMN seperti BPJS Kesehatan dan BPJS
Ketenagakerjaan, BNI juga Nurbaya.id.
Kegiatan pelatihan itu sengaja dilakukan untuk mendorong pengembangan
usaha pelaku ekonomi kecil menangah di Kota Ambon agar dapat bergerak
maju. Pelatihan itu umumnya didominasi oleh kaum perempuan.
Lewat kegiatan itulah, Perpustakaan Hatukau membina para pelaku UMKM
untuk lebih kreatif dalam memasarkan produknya serta memberikan akses
agar produk yang dihasilkan para pelaku UMKM dan kaum perempuan di Ambon
dapat dipasarkan secara luas melalui market online.
“Sekarang perpustakaan sendiri sudah punya data by name by adress pelaku
UMKM. setelah dari situ kami lebih pada pembinaan. Perpusatakaan ini
tidak punya uang, beda dengan SKPD mereka punya anggaran untuk lakukan
pembinaan. Jadi kami basisnya balik lagi dengan buku. Maka kami
mengarahkan pelaku UMKM untuk ke perpusatakaan di sini ada buku-buku
tersedia contohnya soal kuliner, makanan sehat dan lain-lain,”ungkapnya.
Banyak pelaku UMKM yang kemudian terus berkunjung ke perpustakaan
setelah mengikuti kegiatan tersebut. Umumnya mereka mencari buku-buku
kuliner hingga belajar menggunakan internet untuk mencari informasi guna
memudahkan usaha yang dirintis.
“Mereka datang baca lalu kami meflowup lagi jadi kami mengarahkan mereka
lagi untuk mencari informasi lewat internet yang disediakan gratis y di
perpustkaan. Kami juga bekerjasama dengan nurbaya.id untuk membuka
akses pasar secara online bagi pelaku UMKM termasuk belanja.com,
produknya juga sampai ada di buka lapak,”bebernya .
Dia mengungkapkan ada beberapa pelaku UMKM yang dibina perpustakaan
Hatukau saat ini telah menjadi pelaku usaha yang sukses. Sebab produk
mereka yang dipasarkan lewat belanja.com telah sampai pada level
premium.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Perjuangan Arita Menghidupkan Perpustakaan yang Mati Suri hingga Meraih Segudang Prestasi", https://regional.kompas.com/read/2019/03/20/13480861/perjuangan-arita-menghidupkan-perpustakaan-yang-mati-suri-hingga-meraih.
Penulis : Kontributor Ambon, Rahmat Rahman Patty
Editor : David Oliver Purba
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Perjuangan Arita Menghidupkan Perpustakaan yang Mati Suri hingga Meraih Segudang Prestasi", https://regional.kompas.com/read/2019/03/20/13480861/perjuangan-arita-menghidupkan-perpustakaan-yang-mati-suri-hingga-meraih.
Penulis : Kontributor Ambon, Rahmat Rahman Patty
Editor : David Oliver Purba
Tidak ada komentar:
Posting Komentar