KOMPAS.com - Perpustakaan Nasional berencana menggelar Rapat
Koordinasi Nasional ( Rakornas) Bidang Perpustakaan dengan mengusung tema
"Pustakawan Berkarya Mewujudkan Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial untuk
Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat tanggal 13-16 Maret 2019, di Jakarta.
Rakornas Bidang Perpustakaan akan dihadiri sekitar 2.000 peserta dari Dinas
Perpustakaan Provinsi/Kabupaten/Kota, Bappeda, Asosiasi Penerbit/Pengusaha
Rekaman, Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi, Khusus, dan Sekolah, serta para
pustakawan. Hal ini disampaikan dalam konferensi pers di Perpustakaan Nasional,
Jakarta (11/3/2019) yang menghadirkan beberapa narasumber di antaranya: Ofi
Sofiana (Deputi Bidang Bahan Pustaka dan Jasa Informasi), Joko Santoso (Kepala
Biro Hukum dan Perencanaan), Sri Sumekar (Sekretaris Utama Perpustakaan
Nasional), Bachtiar (Kepala Pusat Penerangan Kemendagri) dan Woro Titi Haryati
(Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Nasional). Potensi
perpustakaan Joko Santoso menyampaikan perpustakaan Indonesia memiliki potensi
besar. Jumlah perpustakaan Indonesia menempati terbanyak kedua di Indonesia
setelah India. Total terdapat lebih dari 160.461 perpustakaan di Indonesia bila
dibandingkan India yang memiliki 330 ribu lebih perpustakaan. Baca juga:
Kepustakaan Populer Gramedia Raih Nominasi London Book Fair 2019 Menepis
anggapan perpustakaan sebagai tempat sepi dan berdebu, Ofi Sofiana menambahkan
Perpusnas sangat masif dalam beradaptasi perubahan teknologi informasi baik
dengan menghadirkan buku digital dan juga layanan e-Perpusnas. Demikian pula
dari sisi infrastruktur Perpusnas banyak melakukan pembenahan sehingga menjadi
destinasi literasi yang nyaman untuk dikunjungi. Perpustakaan Nasional sendiri
sejak diresmikan Presiden Joko Widodo September 2017 mengalami kenaikan jumlah
kunjungan signifikan bila dibandingkan saat menempati gedung lama di Jalan
Salemba Raya. "Saat Setiap bulannya mencapai 73 ribu kunjungan. Bahkan
jumlah kunjungan secara online meningkat secara drastis mencapai 3 kali lipat dibandingkan
secara on site," jelas Joko Santoso. Transformasi Perpusnas Secara layanan
Perpusnas juga mengalami perkembangan. Jumlah layanan online kini telah
mencapai 64 jumlah layanan on line bila dibandingkan jumlah layanan on site
sebanyak 18 jenis layanan. "Perkembangan layanan e-perpusnas sudah sangat
masif karena setiap daerah melakukan replikasi untuk daeranya masing-masing.
Jumlahnya mencapai 84 aplikasi meliputi layanan e-perpusnas provinsi, kabupaten
dan kota," tambah Sri Sumekar Sekretaris Utama Perpustakaan Nasional. Ke
depan Perpusnas diharapkan tidak hanya menjadi tempat informasi membaca buku
namun menjadi ruang terbuka bagi masyarakat berbagi pengetahuan, pengalaman dan
berlatih keterampilan hidup untuk meningkatkan kesejahteraan. Untuk itu,
perpustakaan di daerah nantinya akan didorong menjadi pusat kegiatan masyarakat
yang akan diisi dengan berbagai macam pelatihan, penguatan kerjasama,
peningkatan budaya, pendampingan masyarakat hingga kampanye gemar membaca.
Literasi untuk kesejahteraan Kepala Pusat Penerangan Kemendagri Bactiar
menjelaskan Pemerintah melalui Kementerian Dalam Negeri mendorong pemerintah
daerah untuk memberikan perhatian khusus terhadap perpustakaan daerah melalui
alokasi dana, program dan kegiatan guna mendukung pembangunan SDM melalui
perpustakaan. "Saat ini kita memiliki anggaran sekitar Rp 1,1 triliun
rupiah dengan 700 miliar di antaranya untuk pengembangan perpustakaan nasional
di daerah," ujar Bachtiar. "Transformasi perpustakaan ini juga akan
dilakukan hingga perpustakaan daerah. Ada dua hal yang menjadi fokus pembenahan
yakni terkait infrastruktur dan juga peningkatan kemampuan pustakawan,"
jelas Woro Titi Haryati (Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan
Nasional). Ia menyampaikan perpustakaan daerah nantinya akan dilengkapi dengan
akses komputer dan jaringan internet. Termasuk dengan meningkatkan kemampuan
pustakawan untuk ikut perkembangan yang ada. "Pustakawan harus mampu
menghubungkan antara masyarakat dan perpustakaan lewat ragam kegiatan kemasyarakatan
sehingga mampu memberikan manfaat bagi masyarakat mulai dari pelatihan,
pendampingan hingga pemberdayaan," tegas Woro. Rakornas nantinya akan
menghadirkan narasumber penting seperti Mendagri Tjahjo Kumolo, Menkeu Sri
Mulyani, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Bambang PS
Brojonegoro, Mendikbud Muhadjir Effendy, Menteri Desa, Pembangunan Daerah
Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo, Kepala Perpustakaan Nasional,
Duta Baca Indonesia Najwa Shihab, AIPI, serta narasumber eksternal lain.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul
"Perpustakaan: dari Pusat Informasi menjadi Pemberdayaan Masyarakat",
https://edukasi.kompas.com/read/2019/03/14/22513901/perpustakaan-dari-pusat-informasi-menjadi-pemberdayaan-masyarakat.
Penulis : Yohanes Enggar Harususilo
Editor : Yohanes Enggar Harususilo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar