Minggu, 28 April 2019

Perpusnas Gelar Bimtek Strategi Pengembangan Perpustakaan dan TIK


POSBELITUNG.COM-- Perpustakaan Nasional Republik Indonesia mengadakan Bimbingan Teknis Strategi Pengembangan Perpustakaan dan Teknologi Komunikasi dan Informatika (TIK) untuk Layanan Perpustakaan Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial. Kegiatan yang dilaksanakan di Hotel Grand Hatika, Tanjunpandan, Belitung itu berlangsung Senin (22/4/2019) hingga Kamis (25/4/2019) mendatang.

Acara dibuka dibuka Kepala Dinas Perpustakaan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) Dr Ir Rofiko MTP dan Pustakawan Ahli Utama Dra Fathmi SS. Adapun peserta berjumlah 50 orang, terdiri dari empat peserta perwakilan perpustakaan provinsi, perpustakaan kabupaten yakni Bangka dan Belitung masing-masing 16 orang, serta Belitung Timur sebanyak 14 peserta.

"Maksud Bimtek ini adalah memberi pelatihan kepada pihak pemerintah provinsi dan kabupaten penerima manfaat program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial," ujar Rofiko dalam sambutannya.

Rofiko menjelaskan, berdasarkan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007, peran perpustakaan penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Dalam peraturan perundangan secara tegas dijelaskan, masyarakat memiliki hak dalam memperoleh layanan dan mendayagunakan fasilitas perpustakaan.

Hal ini juga berlaku untuk masyarakat disabilitas yang mempunyai keterbatasan fisik maupun sosial serta masyarakat yang terisolasi dan terpencil. Pemerintah berkewajiban menggerakkan promosi gemar membaca dengan memanfaatkan fasilitas perpustakaan.

Selain menciptakan pembelajaran sepanjang hayat, perpustakaan juga berfungsi sebagai tempat belajar masyarakat, wahana dalam mencari informasi, serta rekreasi yang tidak hanya mencerdaskan naumun juga memberdayakan. Ini tentunya memberikan manfaat dan berdampak langsung pada peningkan kualitas dan taraf hidup.

"Bila masyarakat sudah menyadari dan merasakan secara langsung manfaat layanan perpustakaan bagi kehidupannya, maka dengan sendirinya tingkat kegemaran membaca akan meningkat," ujar Rofiko.

Ia menambahkan, tingkat pemberdayaan perpustakaan yang tinggi merupakan wujud dari kemampuan literasi masyarakat suatu negara. Dalam memberikan layanan kepada pemustaka, pemerintah wajib menyesuaikan dengan kemajuan teknologi informasi terkini.

Guna meningkatkan kualitas layanan, perpustakaan dapat berkerja sama dengan berbagai pihak, masyarakat, maupun swasta. Peran serta mereka bisa berupa pembentukan, pengelolahan, penyelenggaraan, pengembangan, dan pengawasan.

Menurut Rofiko, transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial menitikberatkan pada peningkatan kapasitas pengelola dan masyarakat. Tujuannya agar dalam memberikan layanan, perpustakaan mampu memahami kebutuhan serta memberikan inovasi. (*)



Artikel ini telah tayang di posbelitung.co dengan judul Perpusnas Gelar Bimtek Strategi Pengembangan Perpustakaan dan TIK, http://belitung.tribunnews.com/2019/04/22/perpusnas-gelar-bimtek-strategi-pengembangan-perpustakaan-dan-tik.

Editor: nurhayati

Perpustakaan Kota Jogja Berikan Penghargaan pada Pegiat Literasi


Plt Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Ddaerah Kota Jogja, Wahyu Hendratmoko, menyerahkan penghargaan kepada pegiat literasi, pemustaka, dan contributor pengembang literasi, dalam rangka perayaan World Story Telling Day, Senin (22/4/2019). - Harian Jogja/Lugas Subarkah

Harianjogja.com, JOGJA-Dalam rangka merayakan Worls Story Telling Day, perpustakaan Kota Jogja menyerahkan penghargaan bagi pegiat literasi, pemustaka, dan kontributor pengembang literasi yang berperan dalam perkembangan story telling di Kota Jogja, Senin (22/4/2019).

Kegiatan story telling telah diselenggarakan dan menjadi bagian dari layanan Perpustakaan Kota Jogja, baik perpustakaan di Kotabaru, Pevita dan keliling, telah menyediakan materi dan pustakawan yang siap mendongeng untuk pemustaka.


Adapun pemberian penghargaan ini dibagi dalam beberapa kategori, pertama, Pegiat Literasi Perpustakaan Kota Jogja, diberikan kepada Widianto dan Said Harmansyah. Kedua, Pemustaka Terbaik Perpustakaan Kota Jogja, diberikan kepada Kristiawan Budianto.
Ketiga, Kontributor Pengembang Literasi tingkat TK/PAUD Kota Jogja, diberikan kepada Kiki. Keempat, Kontributor Pengembang Literasi Tingkat SD Kota Jogja, diberikan kepada Tri Sumaryanto. Kelima, Pelajar SMP, diberikan kepada Cahaniko Yahya. Keenam, Pelajar SMA, diberikan kepada Angelica Christina Wibowo.
Plt Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) Kota Jogja, Wahyu Hendratmoko, mengatakan layanan story telling merupakan upaya untuk menumbuhkan minat baca pada anak. Menurutnya, merayakan Hari Mendongeng Sedunia ini penting untuk mengapresiasi mereka yang terlibat langsung.
Ia menjelaskan, melalui story telling, kita dapat membangun karakter, mengasah daya pikir dan menumbuhkan imajinasi anak. “Dengan dongeng kita juga bisa menanamkan nilai-nilai moral seperti kesetiakawanan, kejujuran, rendah hati dan lainnya,” kata Wahyu.
Sejak mulai dilaksanakan beberapa tahun silam, story telling Perpustakaan Kota Jogja telah menghasilkan bibit-bibit pendongeng cilik berprestasi nasional. Semisal pada 2018 lalu, pendongeng perwakilan Perpustakaan Kota Jogja, RR Nadia Marfath Khairunnisa, berhasil meraih juara satu lomba bercerita tingkat nasional yang diselenggarakan Perpustakaan Nasional RI.
Hari mendongeng sedunia diperingati setiap tanggal 20 maret. Berawal di Swedia pada 20 Maret 1990, yang pada waktu itu di Swedeia diselenggarakan Alla berattares dag. Kemudian pada 1997 Australia barat menyelenggarakan Celebration of Story selama lima minggu, yang kemudian diikuti negara-negara Amerika Selatan. Hingga sekarang hampir seluruh dunia merayakannya.

Sumber  : https://jogjapolitan.harianjogja.com/read/2019/04/23/510/987220/-perpustakaan-kota-jogja-berikan-penghargaan-pada-pegiat-literasi

e-Book Dinas Perpustakaan Sediakan 2.100 Eksemplar Buku


TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, METRO - Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Dispurda) Kota Metro akan meluncurkan elektronik book (e-Book) untuk memudahkan masyarakat.
Kepala Dispurda Metro Syachri Ramadhan mengatakan, saat ini zaman digital, dan pemerintah harus mengikuti perkembangan tersebut. Karena itu, pihaknya mengeluarkan e-Book agar masyarakat mencari buku bacaan hanya dengan menggunakan smartphone.
"Jadi pengunjung perpustakaan bisa mengakses e-Book melalui website Dispurda Kota Metro tanpa harus datang ke perpus. Nanti juga akan dibuatkan aplikasi. Jadi bisa didownload lewat playstore," ujarnya, Minggu (21/4).
• Mengapa Ada Orang Lebih Senang Baca Buku Fisik Ketimbang e-Book?
Ia menjelaskan, adapun syarat untuk mengakses e-Book, pertama pengunjung harus menjadi anggota e-Book dengan mendaftar di website Dispurda. Setelah mendaftar, akan mendapatkan nomor ID. "Nah, nomor ID ini dibawa ke sini untuk ditukar dengan kartu anggota," bebernya.
Nantinya, terus Syachri, akan ada sekitar 2.100 eksemplar buku dengan berbagai judul yang tersedia di e-Book. Dispurda juga akan berkeliling ke tempat keramaian seperti tempat wisata di Kota Metro untuk memudahkan masyarakat dalam membaca.
• Tambah Koleksi Buku, Perpustakaan Daerah Dibantu Rp 210 juta
"Kita keliling, terus menggunakan motor dan mobil perpustakaan. Misal di saat car free day atau kawasan ramai lainnya. Supaya minat baca masyarakat meningkat," imbuhnya.(dra)

sumber:

Artikel ini telah tayang di tribunlampung.co.id dengan judul e-Book Dinas Perpustakaan Sediakan 2.100 Eksemplar Buku, http://lampung.tribunnews.com/2019/04/21/e-book-dinas-perpustakaan-sediakan-2100-eksemplar-buku.
Penulis: Indra Simanjuntak
Editor: soni
 


Selasa, 09 April 2019

Kunjungan di perpustakaan

Selasa Perpustakaan Kabupaten Sukabumi yang beralamatnya
Jl. Raya Cigayung – Komplek Gelanggang Pemuda Cisaat – Kabupaten Sukabumi – Provinsi Jawa Barat. Hari itu mendapatkan kunjungan siswa siswi kelas 3 dari Sekolah Alam Indonesia Sukabumi . Sekolah yang beralamatnya Jl. Kadudampit, Sukamanah, Cisaat, Sukabumi. Siswa - Siswi berjumlah 27 anak antusias mereka mendapatkan tugas dari guru. Tugas siswa - siswi adalah mencari pembahaman perubah bentuk zat dalam buku. Sebelum mereka mencari tugas kami perpustakawan menjelaskan dan mengenalkan beberapa layanan dan berbagai informasi yg berada di perpustakaan . Mereka menyelesaikan tugas serta mengakhiri kunjungan .

Perpustakaan: dari Pusat Informasi menjadi Pemberdayaan Masyarakat


KOMPAS.com - Perpustakaan Nasional berencana menggelar Rapat Koordinasi Nasional ( Rakornas) Bidang Perpustakaan dengan mengusung tema "Pustakawan Berkarya Mewujudkan Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat tanggal 13-16 Maret 2019, di Jakarta. Rakornas Bidang Perpustakaan akan dihadiri sekitar 2.000 peserta dari Dinas Perpustakaan Provinsi/Kabupaten/Kota, Bappeda, Asosiasi Penerbit/Pengusaha Rekaman, Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi, Khusus, dan Sekolah, serta para pustakawan. Hal ini disampaikan dalam konferensi pers di Perpustakaan Nasional, Jakarta (11/3/2019) yang menghadirkan beberapa narasumber di antaranya: Ofi Sofiana (Deputi Bidang Bahan Pustaka dan Jasa Informasi), Joko Santoso (Kepala Biro Hukum dan Perencanaan), Sri Sumekar (Sekretaris Utama Perpustakaan Nasional), Bachtiar (Kepala Pusat Penerangan Kemendagri) dan Woro Titi Haryati (Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Nasional). Potensi perpustakaan Joko Santoso menyampaikan perpustakaan Indonesia memiliki potensi besar. Jumlah perpustakaan Indonesia menempati terbanyak kedua di Indonesia setelah India. Total terdapat lebih dari 160.461 perpustakaan di Indonesia bila dibandingkan India yang memiliki 330 ribu lebih perpustakaan. Baca juga: Kepustakaan Populer Gramedia Raih Nominasi London Book Fair 2019 Menepis anggapan perpustakaan sebagai tempat sepi dan berdebu, Ofi Sofiana menambahkan Perpusnas sangat masif dalam beradaptasi perubahan teknologi informasi baik dengan menghadirkan buku digital dan juga layanan e-Perpusnas. Demikian pula dari sisi infrastruktur Perpusnas banyak melakukan pembenahan sehingga menjadi destinasi literasi yang nyaman untuk dikunjungi. Perpustakaan Nasional sendiri sejak diresmikan Presiden Joko Widodo September 2017 mengalami kenaikan jumlah kunjungan signifikan bila dibandingkan saat menempati gedung lama di Jalan Salemba Raya. "Saat Setiap bulannya mencapai 73 ribu kunjungan. Bahkan jumlah kunjungan secara online meningkat secara drastis mencapai 3 kali lipat dibandingkan secara on site," jelas Joko Santoso. Transformasi Perpusnas Secara layanan Perpusnas juga mengalami perkembangan. Jumlah layanan online kini telah mencapai 64 jumlah layanan on line bila dibandingkan jumlah layanan on site sebanyak 18 jenis layanan. "Perkembangan layanan e-perpusnas sudah sangat masif karena setiap daerah melakukan replikasi untuk daeranya masing-masing. Jumlahnya mencapai 84 aplikasi meliputi layanan e-perpusnas provinsi, kabupaten dan kota," tambah Sri Sumekar Sekretaris Utama Perpustakaan Nasional. Ke depan Perpusnas diharapkan tidak hanya menjadi tempat informasi membaca buku namun menjadi ruang terbuka bagi masyarakat berbagi pengetahuan, pengalaman dan berlatih keterampilan hidup untuk meningkatkan kesejahteraan. Untuk itu, perpustakaan di daerah nantinya akan didorong menjadi pusat kegiatan masyarakat yang akan diisi dengan berbagai macam pelatihan, penguatan kerjasama, peningkatan budaya, pendampingan masyarakat hingga kampanye gemar membaca. Literasi untuk kesejahteraan Kepala Pusat Penerangan Kemendagri Bactiar menjelaskan Pemerintah melalui Kementerian Dalam Negeri mendorong pemerintah daerah untuk memberikan perhatian khusus terhadap perpustakaan daerah melalui alokasi dana, program dan kegiatan guna mendukung pembangunan SDM melalui perpustakaan. "Saat ini kita memiliki anggaran sekitar Rp 1,1 triliun rupiah dengan 700 miliar di antaranya untuk pengembangan perpustakaan nasional di daerah," ujar Bachtiar. "Transformasi perpustakaan ini juga akan dilakukan hingga perpustakaan daerah. Ada dua hal yang menjadi fokus pembenahan yakni terkait infrastruktur dan juga peningkatan kemampuan pustakawan," jelas Woro Titi Haryati (Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Nasional). Ia menyampaikan perpustakaan daerah nantinya akan dilengkapi dengan akses komputer dan jaringan internet. Termasuk dengan meningkatkan kemampuan pustakawan untuk ikut perkembangan yang ada. "Pustakawan harus mampu menghubungkan antara masyarakat dan perpustakaan lewat ragam kegiatan kemasyarakatan sehingga mampu memberikan manfaat bagi masyarakat mulai dari pelatihan, pendampingan hingga pemberdayaan," tegas Woro. Rakornas nantinya akan menghadirkan narasumber penting seperti Mendagri Tjahjo Kumolo, Menkeu Sri Mulyani, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Bambang PS Brojonegoro, Mendikbud Muhadjir Effendy, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo, Kepala Perpustakaan Nasional, Duta Baca Indonesia Najwa Shihab, AIPI, serta narasumber eksternal lain.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Perpustakaan: dari Pusat Informasi menjadi Pemberdayaan Masyarakat", https://edukasi.kompas.com/read/2019/03/14/22513901/perpustakaan-dari-pusat-informasi-menjadi-pemberdayaan-masyarakat.
Penulis : Yohanes Enggar Harususilo
Editor : Yohanes Enggar Harususilo