Satu minggu berlalu dari kelas menulis pertama ku,
sebelumnya ku perkenalkan diri nama ku damar, seorang pegawai . saya bercita –cita
untuk jadi penulis pingin punya karya yg banyak , tapi kadang rasa malas dan
suntuk bikin males menulis. Kelas menulis merupakan tempat yangnyaman dimana
seseorang bisa menulis karya tulis, baik puisi, cerpen , dll. Dimana tempat
kita berbagi tentang macam – macam ide. Kelas menulis adalah salah satu
kegiatan yang ada di dalam perpustakaan. Perpustakaan tempat membuka jendela
informasi dan belajar baik dari bebagai
koleksi yg tercetak dan non cetak. Tempat yg sagat nyaman dengan berbagai
aktivitas aktivitas yang bermanfaat. Tentunya salah satunya dengan adanya kelas
menulis .
Selasa, 09 April 2019
Buku-buku tentang Aceh di Perpustakaan Mesir
AMBON, KOMPAS.com - Lebih dari 1.000 buku tersusun rapih di
dalam enam lemari di sebuah bilik kecil yang disulap menjadi perpustakaan di
gedung serba guna Kantor Desa Batu Merah, Kecamatan Sirimau, Ambon. Meski serba
sederhana, ruangan berukuran 6x4 meter itu sangat tertata rapi. Ada beberapa
meja dan kursi yang disediakan pengelola perpustakaan bagi para pengunjung
untuk membaca. Selain buku, di perpusatakaan sederhana ini juga terdapat tiga
unit komputer yang terhubung langsung dengan jaringan internet. Perpustakaan
Hatukau begitulah namanya. Perpustakaan ini telah beroperasi sejak 2011 silam.
Namun karena tidak dikelola dengan baik, perpustakaan tersebut tidak dapat
difungsikan warga. Hingga akhirnya pada 2017 seorang wanita muda bernama Arita
Muhlisa datang dan mengambil tanggung jawab untuk menghidupkan kembali perpustakaan
tersebut. Berkat perjuangan Arita, Perpustakaan Hatukau menyabet banyak
prestasi hingga mendunia. Kompas.com berkesempatan mengunjungi perpustakaan ini
dan melihat langsung kondisi perpustakaan serta berdiskusi banyak hal dengan
pengelola perpustakaan, Arita Musliha pada Selasa (19/3/2019).
Dalam suasana hangat, Arita kemudian membagi pengalamannya
tentang bagaimana perjuangannya untuk menghidupkan perpustakaan yang telah mati
suri kala itu menjadi sebuah perpustakaan modern dan selalu ramai dikunjungi
warga. “Saya terlibat untuk mengelola perpustakaan ini pada awal 2017. Saat itu
saya diminta oleh Pemerintah Negeri (Desa) Batu Merah untuk mengelola
perpustakaan ini,” kata Arita. Perempuan berusia 29 tahun ini mengatakan
pengaktifan kembali Perpustakaan Hatukau bermula dari program Perpus Seru yang
digagas oleh Coca Cola Fondation Indonesia bekerjasama dengan Bill Gets
Indonesia. Kebetulan saja kata Arita, Desa Batu Merah bersama empat desa lain
dipilih untuk menjalankan program Perpus Seru tersebut. Dari situlah Arita
kemudian mulai terlibat aktif untuk menghidupkan Perpustakaan Hatukau. Arita
mengatakan setelah dihubungi pihak desa, dia langsung mengambil tanggung jawab
tersebut sebagai pengelola perpustakaan. Arita berujar sebelum menjadi
pengelola perpustakaan, dia sebelumnya telah aktif di komunitas literasi
sehingga dasar yang telah di dapat sangat membantunya untuk mengurus
perpustakaan. “Awal mula bergerak di dunia literasi sebenarnya sebelum di
Perpustakaan Hatukau. Sebelumnya saya dan teman-teman juga sudah pernah bikin
satu komunitas namanya rumah baku mangente,” ujarnya. Arita menceritakaan di
komunitas literasi tersebut, dia dan teman-temannya melakukan banyak kegiatan
yang melibatkan anak-anak usia dini dan anak-anak kurang mampu yang tidak
mendapatkan akses pendidikan. Berbagai kegiatan yang dilakukan selama terlibat
aktif di komunitas Rumah Baku Mangente, Arita dan rekan-rekannya memberikan
pelajaran gratis kepada anak-anak seperti baca buku, belajar bahasa inggris.
Kegiatan lain yang juga sering dilakukan seperti nonton bareng, latihan karate
hingga kegiatan cerita bertutur kepada anak-anak. “Rumah saya menjadi tempat
kumpul saat itu. Saya sendiri bersedia mengelola perpustakaan ini karena punya
basic dengan komunitas literasi sejak sekolah hingga mahasiswa,”katanya.
Kerepotan Ibu dua anak ini menuturkan, awalnya dia sedikit kerepotan untuk
membenahi perpustakaan tersebut, sebab dia memulai semuanya dari awal. Mengatur
ruangan,mengangkat buku-buku lalu dari lantai dua kantor Desa Batu Merah dan
membersihkan buku-buku dari debu hingga menyusun dan menata perpustakaan
menjadi lebih baik harus dilakukannya saat itu. Kini Arita tidak lagi sendiri,
karena dia telah mempunyai dua rekan yang selalu membantunya mengelol
perpustakaan tersebut yakni Mega Lestari Jafar dan Dian. “Saat ini saya punya
dua teman lagi yang jadi relawan di sini,” ujarnya. Menurut alumni Fakultas
Ekonomi Universitas Pattimura Ambon ini, perpustakaan yang dikelolanya kini
ramai dikunjungi warga setiap harinya. Selain membaca, para pengunjung mulai
dari pelajar, mahasiswa hingga ibu-ibu dan masyarakat umum juga memanfaatkan
komputer dan jaringan internet yang disediakan gratis di perpustakaan tersebut.
“Semuanya gratis dan siapa saja bebas datang ke sini. Biasanya anak-anak datang
untuk mencari tugas di internet, begitupun juga warga lainnya, jadi
pengunjungnya ramai di sini,”katanya. Bina 500 Pelaku UMKM Selain sebagai tempat
membaca buku, Perpustakaan Hatukau juga bergerak pada pengembangan ekonomi
perempuan dan masyarakat hingga terlibat dalam berbagai pelatihan untuk
mendorong peningkatan kemampuan ekonomi pelaku UMKM di Kota Ambon. Arita
mengatakan, sejak Maret 2017, pihaknya telah membuat kegiatan pelatihan
digitalisasi ekonomi yang diikuti sebanyak 500 pelaku UMKM di Kota Ambon. Dalam
kegiatan itu, Perpustkaaan Hatukau ikut bekerjasama dengan berbagai pihak dan
BUMN seperti BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan, BNI juga Nurbaya.id.
Kegiatan pelatihan itu sengaja dilakukan untuk mendorong pengembangan usaha
pelaku ekonomi kecil menangah di Kota Ambon agar dapat bergerak maju. Pelatihan
itu umumnya didominasi oleh kaum perempuan. Lewat kegiatan itulah, Perpustakaan
Hatukau membina para pelaku UMKM untuk lebih kreatif dalam memasarkan produknya
serta memberikan akses agar produk yang dihasilkan para pelaku UMKM dan kaum
perempuan di Ambon dapat dipasarkan secara luas melalui market online.
“Sekarang perpustakaan sendiri sudah punya data by name by adress pelaku UMKM.
setelah dari situ kami lebih pada pembinaan. Perpusatakaan ini tidak punya
uang, beda dengan SKPD mereka punya anggaran untuk lakukan pembinaan. Jadi kami
basisnya balik lagi dengan buku. Maka kami mengarahkan pelaku UMKM untuk ke
perpusatakaan di sini ada buku-buku tersedia contohnya soal kuliner, makanan
sehat dan lain-lain,”ungkapnya. Banyak pelaku UMKM yang kemudian terus
berkunjung ke perpustakaan setelah mengikuti kegiatan tersebut. Umumnya mereka
mencari buku-buku kuliner hingga belajar menggunakan internet untuk mencari
informasi guna memudahkan usaha yang dirintis. “Mereka datang baca lalu kami
meflowup lagi jadi kami mengarahkan mereka lagi untuk mencari informasi lewat
internet yang disediakan gratis y di perpustkaan. Kami juga bekerjasama dengan
nurbaya.id untuk membuka akses pasar secara online bagi pelaku UMKM termasuk
belanja.com, produknya juga sampai ada di buka lapak,”bebernya . Dia
mengungkapkan ada beberapa pelaku UMKM yang dibina perpustakaan Hatukau saat
ini telah menjadi pelaku usaha yang sukses. Sebab produk mereka yang dipasarkan
lewat belanja.com telah sampai pada level premium. Baca juga: 15 Sepeda Motor
di Perpustakaan UGM Rusak Tertimpa Pohon Tumbang Dia mencontohkan salah satu
pelaku UMKM, Arsa Marasabessy misalnya, produknya kini menjadi incaran konsumen
di luar daerah Maluku, padahal sebelumnya Arsa hanya seorang pedagang kaki lima
yang yang berjualan di sebuah lapak kecil di Pasar Batu Merah. Kini omset yang
didapat Arsa meningkat tajam setiap bulannya setelah produknya mampu menembus
pasar market online. Atas kesuksesan tersbeut, kata Arita, Arsa kini sering
diundang ke beberapa kegiatan termasuk sampai ke Bekasi, Jawa Barat untuk
membagi pengalamannya terkait bisnis kuliner yang dirintisnya tersebut. Arita
mengatakan selain memberikan pembinaan dan dorongan bagi pelaku UMKM untuk
mengembangkan usahan, pihaknya juga ikut memberikan pelatihan manajemen
keuangan sederhana untuk mereka termasuk mengajari computer hingga internet
gratis. “Kami juga bekerjasama dengan yayasan LAPAN untuk membagikan bantuan
alat produksi untuk pelaku UMKM binaan kami terutama untuk perempuan, karena
kami punya datanya,”sebutnya. Lewat perpustakaan, Arita dan rekan-rekannya juga
mensuport para pelaku UMKM yang yang terdiri dari ibu-ibu untuk mendapatkan
bantuan permodalan untuk mengembangkan usaha mereka dengan bunga yang cukup
ringan. Segudang prestasi Berkat kerja keras yang diraih selama ini,
Perpustakaan Hatukau meraih banyak prestasi baik di tingkat daerah hingga ke
tingkat nasional. Prestasi dan penghargaan yang telah diraih oleh Perpustakaan
Hatukau diantaranya menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia timur dalam lomba
perpustakaan tingkat nasional pada tahun 2018 lalu. Dalam lomba tersebut,
Perpustakaan Hatukau meraih juara keenam. Perpustakaan Hatukau juga didaulat
menjadi perpustakaan dengan cerita impact terbaik pada regional Peral Learning
Meetting di Jogjakarta. Selain itu Perpustakaan Hatukau juga masuk dalam 5
besar perpustakaan terbaik nasional klaster C setelah bersaing dengan 74.000
perpustakaan desa seluruh Indonesia. “Kami juga meraih juara 1 lomba
perpustakaan tingkat provinsi Maluku,” ujarnya sambil menunjukan penghargaan
yang diraih. Tak hanya itu, pada Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Ambon tahun lalu,
Perpustakaan Hatukau juga mendapat dua award sekaligus dari pemerintah Kota
Ambon yakni sebagai perpustakaan desa terbaik dan juga sebagai pegiat literasi
terbaik. Namun dari semua prestasi yang diraih tersebut, yang paling berkesan
bagi Arita adalah bisa tampil di forum internasional menjadi pembicara sambil
membagikan gagasan dan cerita sukses yang diraihnya bagi para pustakawan yang
datang dari berbagai negara dari 4 benua. Menurut Arita forum internasional
yang diikuti oleh para pustakawan dari 19 negara yang umumnya datang dari
negara Afrika itu digelar di Jogjakarta pada 18-22 Agustus 2018 lalu. Saat itu
Arita mengaku dia menjadi pembicara perempuan satu-satunya yang mewakili para
pustakawan dari Indonesia. Tahun ini Perpustakaan Hatukau juga akan diundang ke
Singapura untuk mengikuti kegiatan yang diselenggarakan sebuah even organizer
di negara tersebut.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul
"Perjuangan Arita Menghidupkan Perpustakaan yang Mati Suri hingga Meraih
Segudang Prestasi",
https://regional.kompas.com/read/2019/03/20/13480861/perjuangan-arita-menghidupkan-perpustakaan-yang-mati-suri-hingga-meraih.
Penulis : Kontributor Ambon, Rahmat Rahman Patty
Editor : David Oliver Purba
Perjuangan Arita Menghidupkan Perpustakaan yang Mati Suri hingga Meraih Segudang Prestasi Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Perjuangan Arita Menghidupkan Perpustakaan yang Mati Suri hingga Meraih Segudang Prestasi"
Dia mencontohkan salah
satu pelaku UMKM, Arsa Marasabessy misalnya, produknya kini menjadi
incaran konsumen di luar daerah Maluku, padahal sebelumnya Arsa hanya
seorang pedagang kaki lima yang yang berjualan di sebuah lapak kecil di
Pasar Batu Merah.
Kini omset yang didapat Arsa meningkat tajam setiap bulannya setelah
produknya mampu menembus pasar market online.
Atas kesuksesan tersbeut, kata Arita, Arsa kini sering diundang ke
beberapa kegiatan termasuk sampai ke Bekasi, Jawa Barat untuk membagi
pengalamannya terkait bisnis kuliner yang dirintisnya tersebut.
Arita mengatakan selain memberikan pembinaan dan dorongan bagi pelaku
UMKM untuk mengembangkan usahan, pihaknya juga ikut memberikan pelatihan
manajemen keuangan sederhana untuk mereka termasuk mengajari computer
hingga internet gratis.
“Kami juga bekerjasama dengan yayasan LAPAN untuk membagikan bantuan
alat produksi untuk pelaku UMKM binaan kami terutama untuk perempuan,
karena kami punya datanya,”sebutnya.
Lewat perpustakaan, Arita dan rekan-rekannya juga mensuport para pelaku
UMKM yang yang terdiri dari ibu-ibu untuk mendapatkan bantuan permodalan
untuk mengembangkan usaha mereka dengan bunga yang cukup ringan.
Segudang prestasi
Berkat kerja keras yang diraih selama ini, Perpustakaan Hatukau meraih
banyak prestasi baik di tingkat daerah hingga ke tingkat nasional.
Prestasi dan penghargaan yang telah diraih oleh Perpustakaan Hatukau
diantaranya menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia timur dalam lomba
perpustakaan tingkat nasional pada tahun 2018 lalu. Dalam lomba
tersebut, Perpustakaan Hatukau meraih juara keenam.
Perpustakaan Hatukau juga didaulat menjadi perpustakaan dengan cerita
impact terbaik pada regional Peral Learning Meetting di Jogjakarta.
Selain itu Perpustakaan Hatukau juga masuk dalam 5 besar perpustakaan
terbaik nasional klaster C setelah bersaing dengan 74.000 perpustakaan
desa seluruh Indonesia.
“Kami juga meraih juara 1 lomba perpustakaan tingkat provinsi Maluku,”
ujarnya sambil menunjukan penghargaan yang diraih.
Tak hanya itu, pada Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Ambon tahun lalu,
Perpustakaan Hatukau juga mendapat dua award sekaligus dari pemerintah
Kota Ambon yakni sebagai perpustakaan desa terbaik dan juga sebagai
pegiat literasi terbaik.
Namun dari semua prestasi yang diraih tersebut, yang paling berkesan
bagi Arita adalah bisa tampil di forum internasional menjadi pembicara
sambil membagikan gagasan dan cerita sukses yang diraihnya bagi para
pustakawan yang datang dari berbagai negara dari 4 benua.
Menurut Arita forum internasional yang diikuti oleh para pustakawan dari
19 negara yang umumnya datang dari negara Afrika itu digelar di
Jogjakarta pada 18-22 Agustus 2018 lalu. Saat itu Arita mengaku dia
menjadi pembicara perempuan satu-satunya yang mewakili para pustakawan
dari Indonesia.
Tahun ini Perpustakaan Hatukau juga akan diundang ke Singapura untuk
mengikuti kegiatan yang diselenggarakan sebuah even organizer di negara
tersebut.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Perjuangan Arita Menghidupkan Perpustakaan yang Mati Suri hingga Meraih Segudang Prestasi", https://regional.kompas.com/read/2019/03/20/13480861/perjuangan-arita-menghidupkan-perpustakaan-yang-mati-suri-hingga-meraih.
Penulis : Kontributor Ambon, Rahmat Rahman Patty
Editor : David Oliver Purba
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Perjuangan Arita Menghidupkan Perpustakaan yang Mati Suri hingga Meraih Segudang Prestasi", https://regional.kompas.com/read/2019/03/20/13480861/perjuangan-arita-menghidupkan-perpustakaan-yang-mati-suri-hingga-meraih.
Penulis : Kontributor Ambon, Rahmat Rahman Patty
Editor : David Oliver Purba
AMBON, KOMPAS.com -
Lebih dari 1.000 buku tersusun rapih di dalam enam lemari di sebuah
bilik kecil yang disulap menjadi perpustakaan di gedung serba guna
Kantor Desa Batu Merah, Kecamatan Sirimau, Ambon.
Meski serba sederhana, ruangan berukuran 6x4 meter itu sangat tertata
rapi. Ada beberapa meja dan kursi yang disediakan pengelola perpustakaan
bagi para pengunjung untuk membaca.
Selain buku, di perpusatakaan sederhana ini juga terdapat tiga unit
komputer yang terhubung langsung dengan jaringan internet.
Perpustakaan Hatukau begitulah namanya. Perpustakaan ini telah
beroperasi sejak 2011 silam. Namun karena tidak dikelola dengan baik,
perpustakaan tersebut tidak dapat difungsikan warga.
Hingga akhirnya pada 2017 seorang wanita muda bernama Arita Muhlisa
datang dan mengambil tanggung jawab untuk menghidupkan kembali
perpustakaan tersebut.
Berkat perjuangan Arita, Perpustakaan Hatukau menyabet banyak prestasi
hingga mendunia.
Kompas.com berkesempatan mengunjungi perpustakaan ini dan melihat
langsung kondisi perpustakaan serta berdiskusi banyak hal dengan
pengelola perpustakaan, Arita Musliha pada Selasa (19/3/2019).
Baca juga: Perpustakaan: dari Pusat Informasi menjadi Pemberdayaan
Masyarakat
Dalam suasana hangat, Arita kemudian membagi pengalamannya tentang
bagaimana perjuangannya untuk menghidupkan perpustakaan yang telah mati
suri kala itu menjadi sebuah perpustakaan modern dan selalu ramai
dikunjungi warga.
“Saya terlibat untuk mengelola perpustakaan ini pada awal 2017. Saat itu
saya diminta oleh Pemerintah Negeri (Desa) Batu Merah untuk mengelola
perpustakaan ini,” kata Arita.
Perempuan berusia 29 tahun ini mengatakan pengaktifan kembali
Perpustakaan Hatukau bermula dari program Perpus Seru yang digagas oleh
Coca Cola Fondation Indonesia bekerjasama dengan Bill Gets Indonesia.
Kebetulan saja kata Arita, Desa Batu Merah bersama empat desa lain
dipilih untuk menjalankan program Perpus Seru tersebut. Dari situlah
Arita kemudian mulai terlibat aktif untuk menghidupkan Perpustakaan
Hatukau.
Arita mengatakan setelah dihubungi pihak desa, dia langsung mengambil
tanggung jawab tersebut sebagai pengelola perpustakaan. Arita berujar
sebelum menjadi pengelola perpustakaan, dia sebelumnya telah aktif di
komunitas literasi sehingga dasar yang telah di dapat sangat membantunya
untuk mengurus perpustakaan.
“Awal mula bergerak di dunia literasi sebenarnya sebelum di Perpustakaan
Hatukau. Sebelumnya saya dan teman-teman juga sudah pernah bikin satu
komunitas namanya rumah baku mangente,” ujarnya.
Arita menceritakaan di komunitas literasi tersebut, dia dan
teman-temannya melakukan banyak kegiatan yang melibatkan anak-anak usia
dini dan anak-anak kurang mampu yang tidak mendapatkan akses pendidikan.
Berbagai kegiatan yang dilakukan selama terlibat aktif di komunitas
Rumah Baku Mangente, Arita dan rekan-rekannya memberikan pelajaran
gratis kepada anak-anak seperti baca buku, belajar bahasa inggris.
Kegiatan lain yang juga sering dilakukan seperti nonton bareng, latihan
karate hingga kegiatan cerita bertutur kepada anak-anak.
“Rumah saya menjadi tempat kumpul saat itu. Saya sendiri bersedia
mengelola perpustakaan ini karena punya basic dengan komunitas literasi
sejak sekolah hingga mahasiswa,”katanya.
Kerepotan
Ibu dua anak ini menuturkan, awalnya dia sedikit kerepotan untuk
membenahi perpustakaan tersebut, sebab dia memulai semuanya dari awal.
Mengatur ruangan,mengangkat buku-buku lalu dari lantai dua kantor Desa
Batu Merah dan membersihkan buku-buku dari debu hingga menyusun dan
menata perpustakaan menjadi lebih baik harus dilakukannya saat itu.
Kini Arita tidak lagi sendiri, karena dia telah mempunyai dua rekan yang
selalu membantunya mengelol perpustakaan tersebut yakni Mega Lestari
Jafar dan Dian.
“Saat ini saya punya dua teman lagi yang jadi relawan di sini,” ujarnya.
Menurut alumni Fakultas Ekonomi Universitas Pattimura Ambon ini,
perpustakaan yang dikelolanya kini ramai dikunjungi warga setiap
harinya. Selain membaca, para pengunjung mulai dari pelajar, mahasiswa
hingga ibu-ibu dan masyarakat umum juga memanfaatkan komputer dan
jaringan internet yang disediakan gratis di perpustakaan tersebut.
“Semuanya gratis dan siapa saja bebas datang ke sini. Biasanya anak-anak
datang untuk mencari tugas di internet, begitupun juga warga lainnya,
jadi pengunjungnya ramai di sini,”katanya.
Bina 500 Pelaku UMKM
Selain sebagai tempat membaca buku, Perpustakaan Hatukau juga bergerak
pada pengembangan ekonomi perempuan dan masyarakat hingga terlibat dalam
berbagai pelatihan untuk mendorong peningkatan kemampuan ekonomi pelaku
UMKM di Kota Ambon.
Arita mengatakan, sejak Maret 2017, pihaknya telah membuat kegiatan
pelatihan digitalisasi ekonomi yang diikuti sebanyak 500 pelaku UMKM di
Kota Ambon. Dalam kegiatan itu, Perpustkaaan Hatukau ikut bekerjasama
dengan berbagai pihak dan BUMN seperti BPJS Kesehatan dan BPJS
Ketenagakerjaan, BNI juga Nurbaya.id.
Kegiatan pelatihan itu sengaja dilakukan untuk mendorong pengembangan
usaha pelaku ekonomi kecil menangah di Kota Ambon agar dapat bergerak
maju. Pelatihan itu umumnya didominasi oleh kaum perempuan.
Lewat kegiatan itulah, Perpustakaan Hatukau membina para pelaku UMKM
untuk lebih kreatif dalam memasarkan produknya serta memberikan akses
agar produk yang dihasilkan para pelaku UMKM dan kaum perempuan di Ambon
dapat dipasarkan secara luas melalui market online.
“Sekarang perpustakaan sendiri sudah punya data by name by adress pelaku
UMKM. setelah dari situ kami lebih pada pembinaan. Perpusatakaan ini
tidak punya uang, beda dengan SKPD mereka punya anggaran untuk lakukan
pembinaan. Jadi kami basisnya balik lagi dengan buku. Maka kami
mengarahkan pelaku UMKM untuk ke perpusatakaan di sini ada buku-buku
tersedia contohnya soal kuliner, makanan sehat dan lain-lain,”ungkapnya.
Banyak pelaku UMKM yang kemudian terus berkunjung ke perpustakaan
setelah mengikuti kegiatan tersebut. Umumnya mereka mencari buku-buku
kuliner hingga belajar menggunakan internet untuk mencari informasi guna
memudahkan usaha yang dirintis.
“Mereka datang baca lalu kami meflowup lagi jadi kami mengarahkan mereka
lagi untuk mencari informasi lewat internet yang disediakan gratis y di
perpustkaan. Kami juga bekerjasama dengan nurbaya.id untuk membuka
akses pasar secara online bagi pelaku UMKM termasuk belanja.com,
produknya juga sampai ada di buka lapak,”bebernya .
Dia mengungkapkan ada beberapa pelaku UMKM yang dibina perpustakaan
Hatukau saat ini telah menjadi pelaku usaha yang sukses. Sebab produk
mereka yang dipasarkan lewat belanja.com telah sampai pada level
premium.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Perjuangan Arita Menghidupkan Perpustakaan yang Mati Suri hingga Meraih Segudang Prestasi", https://regional.kompas.com/read/2019/03/20/13480861/perjuangan-arita-menghidupkan-perpustakaan-yang-mati-suri-hingga-meraih.
Penulis : Kontributor Ambon, Rahmat Rahman Patty
Editor : David Oliver Purba
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Perjuangan Arita Menghidupkan Perpustakaan yang Mati Suri hingga Meraih Segudang Prestasi", https://regional.kompas.com/read/2019/03/20/13480861/perjuangan-arita-menghidupkan-perpustakaan-yang-mati-suri-hingga-meraih.
Penulis : Kontributor Ambon, Rahmat Rahman Patty
Editor : David Oliver Purba
Selasa, 02 April 2019
Dinas Perpustakaan Kota Malang Masih Berencana Gelar Lomba Tulis Kekhasan Daerah
SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Kota Malang masih berencana membuat kegiatan untuk menambah minat baca masyarakat.
Salah satunya, menggelar lomba penulisan buku untuk umum.
Hal itu disampaikan oleh Sri Umiasih Kabid Resevasi dan Pengolahan Bahan Pustaka dalam acara yang digelar di Hotel Savana Kota Malang pada Rabu (20/3/2019).
"Tujuan lomba penulisan buku ini ialah untuk menambahkan koleksi buku di perpustakaan Kota Malang, sembari menambah minat baca untuk masyarakat khususnya generasi milineal," ucapnya
Acara yang bertajuk 'mengembangkan koleksi perpustakaan berdasarkan kekhasan daerah' itu dihadiri oleh para penulis, komunitas baca, dan masyarakat umum.
Sri berharap, dengan digelarnya acara ini nantinya perpus Kota Malang bisa menambah koleksi, terutama tentang khas daerah.
"Tema besarnya ialah Kota Malang. Karena literatur tentang kekhasan daerah ini sangat kurang," ucapnya.
Meskipun demikian, Sri belum bisa memastikan kapan tanggal digelarnya lomba penulisan buku tersebut.
Dirinya masih menunggu diskusi ini untuk nantinya akan dilaporkan kepada Wali Kota Malang terkait dengan program dan anggaran.
"Jadi nanti kami laporkan hasilnya. Upaya kami yang pertama ini ialah lomba penulisan buku dulu untuk Kota Malang," jelasnya.
Pemenang dari lomba penulisan buku itu nantinya akan dibagikan ke sekolah-sekolah yang ada di Kota Malang.
Untuk itu, Sri akan meminta bekerjasama dengan perguruan tinggi dan lembaga maupun komunitas lain yang terkait.
"Nanti dari Perpustakaan Kota Malang yang akan menerbitkan. Tetapi tidak akan kami komersilkan ataupun menjual. Namun hanya kami sebarkan saja," ucapnya.
Sementara itu, upaya lain yang dilakukan oleh Perpustakaan Kota Malang dalam menambah minat baca ialah dengan cara menyebarkan mobil baca di taman-taman yang ada di Kota Malang.
Dirinya juga bekerjasama dengan komunitas-komunikas literasi agar membantu masyarakat untuk menambah minat baca.
"Program mobil baca ini sudah kami terapkan, hasilnya positif. Namun, kami harus terus melakukan evaluasi agar kegiatan kami ini lebih efektif dan mengena ke masyarakat," ucapnya.
Di sisi lain, Fatkul Hata Panatapraja, pemateri dalam acara tersebut mengatakan, bahwa masa kini merupakan masa di mana telah muncul generasi menunduk.
Menunduk dalam hal ini ialah seseorang yang selalu melihat sebuah Handphone.
"Dulu, minat baca masyarakat terhadap buku ini banyak. Sejak adanya Handphone dan Smartphone ini semakin banyak generasi menunduk di negara kita ini," ucapnya.
Salah satunya, menggelar lomba penulisan buku untuk umum.
Hal itu disampaikan oleh Sri Umiasih Kabid Resevasi dan Pengolahan Bahan Pustaka dalam acara yang digelar di Hotel Savana Kota Malang pada Rabu (20/3/2019).
"Tujuan lomba penulisan buku ini ialah untuk menambahkan koleksi buku di perpustakaan Kota Malang, sembari menambah minat baca untuk masyarakat khususnya generasi milineal," ucapnya
Acara yang bertajuk 'mengembangkan koleksi perpustakaan berdasarkan kekhasan daerah' itu dihadiri oleh para penulis, komunitas baca, dan masyarakat umum.
Sri berharap, dengan digelarnya acara ini nantinya perpus Kota Malang bisa menambah koleksi, terutama tentang khas daerah.
"Tema besarnya ialah Kota Malang. Karena literatur tentang kekhasan daerah ini sangat kurang," ucapnya.
Meskipun demikian, Sri belum bisa memastikan kapan tanggal digelarnya lomba penulisan buku tersebut.
Dirinya masih menunggu diskusi ini untuk nantinya akan dilaporkan kepada Wali Kota Malang terkait dengan program dan anggaran.
"Jadi nanti kami laporkan hasilnya. Upaya kami yang pertama ini ialah lomba penulisan buku dulu untuk Kota Malang," jelasnya.
Pemenang dari lomba penulisan buku itu nantinya akan dibagikan ke sekolah-sekolah yang ada di Kota Malang.
Untuk itu, Sri akan meminta bekerjasama dengan perguruan tinggi dan lembaga maupun komunitas lain yang terkait.
"Nanti dari Perpustakaan Kota Malang yang akan menerbitkan. Tetapi tidak akan kami komersilkan ataupun menjual. Namun hanya kami sebarkan saja," ucapnya.
Sementara itu, upaya lain yang dilakukan oleh Perpustakaan Kota Malang dalam menambah minat baca ialah dengan cara menyebarkan mobil baca di taman-taman yang ada di Kota Malang.
Dirinya juga bekerjasama dengan komunitas-komunikas literasi agar membantu masyarakat untuk menambah minat baca.
"Program mobil baca ini sudah kami terapkan, hasilnya positif. Namun, kami harus terus melakukan evaluasi agar kegiatan kami ini lebih efektif dan mengena ke masyarakat," ucapnya.
Di sisi lain, Fatkul Hata Panatapraja, pemateri dalam acara tersebut mengatakan, bahwa masa kini merupakan masa di mana telah muncul generasi menunduk.
Menunduk dalam hal ini ialah seseorang yang selalu melihat sebuah Handphone.
"Dulu, minat baca masyarakat terhadap buku ini banyak. Sejak adanya Handphone dan Smartphone ini semakin banyak generasi menunduk di negara kita ini," ucapnya.
Artikel ini telah tayang di suryamalang.com dengan judul Dinas Perpustakaan Kota Malang Masih Berencana Gelar Lomba Tulis Kekhasan Daerah, http://suryamalang.tribunnews.com/2019/03/20/dinas-perpustakaan-kota-malang-masih-berencana-gelar-lomba-tulis-kekhasan-daerah?page=all.
Penulis: Mochammad Rifky Edgar Hidayatullah
Editor: yuli
Uniknya Perpustakaan di Bandung Berdinding Ember Es Krim
BANGKAPOS.COM - Alih-alih menyumbat saluran air, plastik justru membantu membuat perpustakaan kecil di Bandung ini terlihat menakjubkan.
Perpustakaan kecil yang dibuka pada Juli lalu itu telah menarik perhatian dunia tidak hanya melalui persediaan buku-bukunya tetapi juga untuk desain cerdiknya.
Dinding-dinding pada perpustakaan ini dibuat menggunakan ember es krim.
Sang arsitek, Florian Heinzelmann dari firma arsitektur Belanda Shau menciptakan apa yang dia sebut sebagai "micro library" atau perpustakaan mini seluas 159,8 meter persegi.
Dia memanfaatkan 2.000 ember plastik untuk membangun dinding perpustakaannya.
"Perpustakaan ini ada di Taman Birma yang merupakan tempat komunal bagi orang-orang untuk bergaul dan membaca," kata Heinzelmann.
Selain meningkatkan literasi di Indonesia, Heinzelmann juga berharap agar perpustakaan ini mampu menumbuhkan kesadaran lingkungan masyarakat.
Bagian bawah ember menandakan angka satu sementara ujung lainnya mewakili nol.
Ditempatkan di antara tulangan baja vertikal, ember yang ditata sedemikian rupa ini berfungsi untuk mengusir air hujan.
Selain itu karena tidak terlalu buram, dinding ember ini membuat pembaca mendapatkan cahaya matahari alami dan juga mampu mengoptimalkan ventilasi alami.
Perpustakaan ini berada di lantai pertama dan dapat diakses oleh tangga di samping lantai dasar yang bisa digunakan untuk berbagai fungsi komunal.
Artikel ini telah tayang di bangkapos.com dengan judul Uniknya Perpustakaan di Bandung Berdinding Ember Es Krim, http://bangka.tribunnews.com/2019/03/23/uniknya-perpustakaan-di-bandung-berdinding-ember-es-krim.
Editor: fitriadi
Perpustakaan kecil yang dibuka pada Juli lalu itu telah menarik perhatian dunia tidak hanya melalui persediaan buku-bukunya tetapi juga untuk desain cerdiknya.
Dinding-dinding pada perpustakaan ini dibuat menggunakan ember es krim.
Sang arsitek, Florian Heinzelmann dari firma arsitektur Belanda Shau menciptakan apa yang dia sebut sebagai "micro library" atau perpustakaan mini seluas 159,8 meter persegi.
Dia memanfaatkan 2.000 ember plastik untuk membangun dinding perpustakaannya.
"Perpustakaan ini ada di Taman Birma yang merupakan tempat komunal bagi orang-orang untuk bergaul dan membaca," kata Heinzelmann.
Selain meningkatkan literasi di Indonesia, Heinzelmann juga berharap agar perpustakaan ini mampu menumbuhkan kesadaran lingkungan masyarakat.
Hal itu diharapkannya lantaran
beberapa pantai dan saluran air telah banyak tercemar serta tersumbat
akibat meningkatnya sampah plastik.
Meskipun tidak jelas bagi pengunjung biasa atau orang yang meihatnya,
dinding ember es krim ini sebenarnya membentuk kode biner dari kalimat
"buku adalah jendela dunia,".Bagian bawah ember menandakan angka satu sementara ujung lainnya mewakili nol.
Ditempatkan di antara tulangan baja vertikal, ember yang ditata sedemikian rupa ini berfungsi untuk mengusir air hujan.
Selain itu karena tidak terlalu buram, dinding ember ini membuat pembaca mendapatkan cahaya matahari alami dan juga mampu mengoptimalkan ventilasi alami.
Perpustakaan ini berada di lantai pertama dan dapat diakses oleh tangga di samping lantai dasar yang bisa digunakan untuk berbagai fungsi komunal.
Artikel ini telah tayang di bangkapos.com dengan judul Uniknya Perpustakaan di Bandung Berdinding Ember Es Krim, http://bangka.tribunnews.com/2019/03/23/uniknya-perpustakaan-di-bandung-berdinding-ember-es-krim.
Editor: fitriadi
100 kata
Seratus kata sepat berfikir dan binggung mau nulis apa dan
bagaimana ? ikut sudah terlambat terpaksa otak di paksa untuk berfikir memulai
untuk menyusun huruf demi huruf memuat kata hingga 100 kata. Kata yg tersusun
sangat bebas tanpa tema , membuat harus mengetik jari –jemari kaku lama tak
penah menulis lagi kini mulai memencet keyboard yang berdebu. Rasa ragu,takut ,
dan kuwatir yang karena lama tidak tak menulis sudah mulai berkurang. Tugas
dari perpustakan dalam kelas menulis benar –benar melatih otak, perlahan
berkurang tulisan yang dimulai dari kata menjadi kalimat mulai perlahan menjadi 100
kata. Akhirnya tugas selesai.
Kamis, 15 September 2016
Budaya Baca Masyarakat Sleman Terus Meningkat
Budaya baca pada masyarakat Kabupaten Sleman terus meningkat setiap tahunnya. Hal ini terlihat dari jumlah pengunjung perpustakaan yang semakin banyak.
“Ada 108.875 pengunjung perpustakaan pada 2013, lalu meningkat menjadi 580.219 pada 2014, dan mengalami peningkatan lagi menjadi 609.754 pengunjung pada tahun 2015,” kata Bupati Sleman, Sri Purnomo pada Acara Gemilang Perpustakaan dalam rangka memperingati Bulan Gemar Membaca dan Hari Kunjung Perpustakaan di Rumah Dinas Bupati, Rabu (14/9).
Sri mengemukakan, kondisi ini tentu sangat membanggakan. Bahkan ia berharap perpustakaan yang represenatif akan memotivasi pelajar, mahasiswa, dan masyarakat untuk terus membaca.
Adapun jumlah perpustakaan di Sleman saat ini sebanyak 873 unit. Sedangkan koleksi yang dimiliki oleh Perpustakaan Daerah Sleman mencapai 34.815 judul buku dengan jumlah 62.847 eksemplar. Sri mengatakan, pemanfaatan perpustakaan harus terus distimulasi, karena dapat menjadi salah satu sarana penunjang dalam peningkatan kualitas pendidikan.
informasi selengkapnya : http://duniaperpustakaan.com/budaya-baca-masyarakat-sleman-terus-meningkat/
Langganan:
Postingan (Atom)