Kamis, 15 September 2016

Budaya Baca Masyarakat Sleman Terus Meningkat

Budaya baca pada masyarakat Kabupaten Sleman terus meningkat setiap tahunnya. Hal ini terlihat dari jumlah pengunjung perpustakaan yang semakin banyak.

“Ada 108.875 pengunjung perpustakaan pada 2013, lalu meningkat menjadi 580.219 pada 2014, dan mengalami peningkatan lagi menjadi 609.754 pengunjung pada tahun 2015,” kata Bupati Sleman, Sri Purnomo pada Acara Gemilang Perpustakaan dalam rangka memperingati Bulan Gemar Membaca dan Hari Kunjung Perpustakaan di Rumah Dinas Bupati, Rabu (14/9).
Sri mengemukakan, kondisi ini tentu sangat membanggakan. Bahkan ia berharap perpustakaan yang represenatif akan memotivasi pelajar, mahasiswa, dan masyarakat untuk terus membaca.
Adapun jumlah perpustakaan di Sleman saat ini sebanyak 873 unit. Sedangkan koleksi yang dimiliki oleh Perpustakaan Daerah Sleman mencapai 34.815 judul buku dengan jumlah 62.847 eksemplar. Sri mengatakan, pemanfaatan perpustakaan harus terus distimulasi, karena dapat menjadi salah satu sarana penunjang dalam peningkatan kualitas pendidikan.

Selasa, 13 September 2016

Hari kunjung perpustakaan upaya dongkrak minat baca masyarakat

Bulan September dalam kalender nasional memiliki dua momen penting. Bulan kesembilan itu dijadikan sebagai Bulan Gemar Membaca dan tanggal 14 September diperingati sebagai Hari Kunjung Perpustakaan.

Dua momen tersebut penting untuk mendongkrak minat baca buku masyarakat Indonesia. Minat masyarakat membaca buku masih rendah. Sebuah survei yang dilakukan Central Connecticut State University di New Britain yang bekerja sama dengan sejumlah peneliti sosial menempatkan Indonesia di peringkat 60 dari 61 negara terkait minat baca. Survei dilakukan sejak 2003 hingga 2014. Indonesia hanya unggul dari Bostwana yang berada di posisi 61.

ingin tau selengkapnya :
http://news.metrotvnews.com/peristiwa/8Ky9EB6K-hari-kunjung-perpustakaan-upaya-dongkrak-minat-baca-masyarakat

Mengenal lebih dekat Perpustakaan Nasional RI

Perpustakaan menjadi pintu gerbang untuk menggali ilmu pengetahuan. Perpustakaan menyimpan banyak buku yang disebut sebagai jendela dunia. Perpustakaan dapat ditemui seluruh provinsi, kabupaten/kota, sekolah, universitas, pondok pesantren, bahkan di lembaga permasyarakatan.

Tak terkecuali Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI yang terletak di kawasan Salemba, Jakarta Pusat.
Sesuai Pasal 1 ayat 5 UU no 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan, Perpustakaan Nasional memiliki fungsi yaitu Perpustakaan Pembina, Rujukan, Deposit, Penelitian, Pelestarian, dan Pusat Jejaring Perpustakaan, serta berkedudukan di ibu kota negara.
Keberadaan Perpusnas ternyata memiliki catatan sejarah panjang yang patut untuk disimak.

Sekretaris Utama (Sestama) Perpusnas Dedi Junaedi menjelaskan, awalnya perpustakaan ini merupakan gabungan dari empat institusi yang lahir pada 17 Mei 1980, dan hingga kini diperingati sebagai hari lahir Perpusnas. Di antaranya Perpustakaan Museum Pusat, Perpustakaan Sejarah dan Politik, Perpustakaan Wilayah tipe B Daerah Khusus Ibukota serta Bidang Bibliografi dan Deposit.  

Walaupun secara resmi Perpusnas berdiri pada pertengahan 1980, integrasi secara fisik baru bisa dilakukan pada Januari 1981. Hingga 1987, Perpusnas masih berada di tempat yang berbeda, yaitu Jalan Merdeka Barat Nomor 12 (Museum Nasional), Jalan Medan Merdeka Selatan Nomor 11 (Perpustakaan SPS), dan Jalan Imam Bonjol Nomor 1 yang sekarang menjadi Museum Naskah Proklamasi.

"Alhamdulillah, dengan adanya kedekatan Ibu Kepala Perpusnas Mastini Hardjoprakosa dan Ibu Tien Soeharto, Perpusnas ditempatkan di sini (Jalan Salemba Raya 28). Kita tidak mengeluarkan anggaran apa pun, dapat fasilitas gedung baru," ujar Dedi kepada Metrotvnews.com, saat ditemui  di Gedung Utama Perpusnas, Jakarta.

Gedung Perpusnas kala itu merupakan sebuah gedung kuno bekas sekolah HBS Koning Willem III. Saat itu, gedung dan lahan digunakan sebagai kantor Jawatan Kesehatan TNI AD (Rinkes Kodam V/ Jaya).

sumber

Perpustakaan Sekolah Perlu Dikembangkan

SAMARINDA – Setiap satuan pendidikan atau sekolah hendaknya sudah mampu mengembangkan pelayanan keperpustakaan berbasis digital atau teknologi informasi (TI).
Karena pengembangan di sekolah-sekolah, saat ini bukan hanya tanggung jawab dinas atau instansi yang membidangi pendidikan tetapi sudah menjadi tugas dan tang-gungjawab Badan Perpustakaan.
Hal tersebut ditegaskan Kepala Badan Perpustakaan Kaltim Hj Ardi-ningsih pada Bimbingan Teknis Per-pustakaan Berbasis Teknologi Informasi se-Kaltim 2016 di Ruang Balai Pustaka, belum lama ini.
Menurut dia, perpustakaan meru-pakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam dunia pendidikan guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Kaltim.
Apalagi ujarnya, sekarang ini sudah memasuki era digitalisasi sehingga tidak ada alasan dalam pelayanan publik utamanya pelayanan perpustakaan tidak memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi.
“Kita ingin agar tidak saja perpustakaan umum tetapi bagaimana perpustakaan sekolah dan perguruan tinggi bisa mengembangkan perpustakaan berbasis teknologi informasi, sehingga tidak hanya bersifat konvensional,” katanya.
Selain itu, para pengelola perpustakaan sekolah dari segala jenjang pendidikan menjadi muara perpanjangan tangan Badan Perpusatakaan di daerah untuk mengetahui sebesar apa atau sejauh mana tingkat minat baca anak didik di sekolah tersebut.
Sementara itu Kepala Bidang Pengembangan dan Pembinaan Sumindar mengemukakan sasaran kegiatan adalah terdidiknya tenaga perpustakaan sehingga mampu mengoperasikan sarana perpustakaan berbasis IT.
Bimtek perpustakaan berbasis IT digelar selama tiga hari, 5-7 September diikuti 34 peserta dari 9 kabupaten dan kota se-Kaltim. (kgi)
sumber : http://www.korankaltim.com/perpustakaan-sekolah-perlu-dikembangkan/

perpustakaan desa jadi penggerak pembangunan

GUNUNGKIDUL—Perpustakaan desa yang telah dibangun merata di 144 desa di Gunungkidul diharapkan tak hanya menjadi tempat untuk menyimpan, meminjam, atau mengembalikan buku saja.
Namun  perpustakaan dijadikan sebagai sarana untuk melakukan pembangunan desa melalui kegiatan yang banyak dapat dilakukan di perpustakaan.
Kepala Kantor Perpustakaan Arsip Daerah (KPAD) Gunungkidul, Ali Ridlo mengatakan bahwa saat ini perpustakaan diharapkan dapat dijadikan sebagai penggerak pembangunan desa. Ia menjelaskan, hal tersebut didasarkan pada pemikiran dasar bahwa buku yang terdapat di perpustakaan desa menjadi sumber ilmu yang dapat diserap oleh masyarakat.
Pihaknya berupaya untuk memfasilitasi masyarakat agar mencintai budaya membaca sehingga outputnya masyarakat dapat memperoleh ilmu baru dan memunculkan inovasi.
“Dengan membaca, nantinya masyarakat dapat menghasilkan suatu perkembangan dari ilmu yang telah diperoleh dari sumber buku,” kata Ali saat dijumpai di ruang kerjanya, Kamis (8/9/2016).
berita selengkapnya
http://www.harianjogja.com/baca/2016/09/09/perpustakaan-desa-jadi-penggerak-pembangunan-751914